(1) كَانَ الْإِمَامُ الشَّافِعِىُّ مُتَأَدِّبًاجِدًّا، أَمَامَ أُسْتَاذِهِ الْإِمَامِ مَالِكٍ رَحِمَهُمَا اللهُ، حَتَّى قَالَ : كُنْتُ أَصْفَحُ الْوَرَقَةَ بَيْنَ يَدَىْ مَالِكٍ، صَفْحًا رَقِيْقًا، هَيْبَةً لَهُ، لِئَلَّا يَسْمَعَ وَقْعَهَا
1. Imam Asy-Syafii adalah seorang yang sangat beradab, dihadapan gurunya yaitu Imam Malik semoga allah merahmati keduanya, Beliau berkata : Aku membuka halaman kertas dihdapan Imam Malik , dengan membuka secara perlahan-lahan, karena segan kepadanya, supaya tidak mendengar bunyinya
(2) وَكَانَ الرَّبِيْعُ بْنُ سُلَيْمَانَ، يُعَظِّمُ أُسْتَاذَهُ الْإِمَامُ الشَّافِعِىَّ تَمَامَ التَّعْظِيْمِ، وَيَقُوْلُ : وَاللهِ مَا اجْتَرَأْتُ أَنْ أَشْرَبَ الْمَاءَ،وَالشَّافِعِىُّ يَنْظُرُإِلَىَّ،هَيْبَةً لَهُ،وَكَانَ أُسْتَاذُهُ يُحِبُّهُ غَايَةَ الْمَحَبَّةِ، وَيَقُوْلُ لَهُ : يَا رَبِيْعُ، لَوْ قَدَرْتُ أَنْ أُطْعِمَكَ الْعِلْمَ لَأَطْعَمْتُكَ إِيَّاهُ
2. Dan Ar-rabi’ bin Sulaiman, seorang yang sangat mengagungkan gurunya yaitu imam As-Syafii dengan penuh pengagungan , Ia berkata, “Demi Allah aku tidak berani minum air, sementara imam As-Syafii melihat kepadaku, karena aku segan kepadanya.” Dan Gurunya mencintainya dengan sangat besar dan berkata kepadanya, “ Hai Rabi’, seandainya aku mampu menyuapimu ilmu, tentulah aku akan ia suapkan kepadamu.”
(3) وَضَعَ هَارُوْنُ الرَّشِيْدُ وَلَدَيْهِ الْأَمِيْنَ وَالْمَأْمُوْنَ، عِنْدَ أُسْتَاذٍ عَلَّامَةٍ، اِسْمُهُ الْكِسَائِىُّ، فَقَامَ الْأُسْتَاذُ ذَاتَ يَوْمٍ، لِيَخْرُجَ مِنْ عِنْدِهِمَا، فَتَسَابَقَا اِلَى نَعْلَيْهِ، وَتَنَازَعَا عَلَى تَقْدِيْمِهِمَا إِلَيْهِ، ثُمَّ اصْطَلَحَا عَلَى أَنْ يُقَدِّمَ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا وَاحِدَةً مِنَ النَّعْلَيْنِ، فَسَمِعَ الرَّشِيْدُ بِذَلِكَ، فَأَرْسَلَ إِلَيْهِ، فَقَالَ لَهُ : مِنْ أَعَزُّ النَّاسِ؟ قَالَ : أَمِيْرُ الْمُؤْمِنِيْنَ. قَالَ : لَا، بَلْ أَعَزُّالنَّاسِ مَنْ يَتَسَابَقُ أَوْلَادُ أَمِيْرِ الْمُؤْمِنِيْنَ إِلَى تَقْدِيْمِ نَعْلَيْهِ. فَاسْتَعْظَمَ الْأُسْتَاذُ الْأَمْرَ، وَظَنَّ أَنَّهُ أَخْطَأَ، وَأَرَادَ أَنْ يَمْنَعَهُمَا مِنْ ذَلِكَ فِى الْمَرَّةِ الْأُخْرَى، فَقَالَ الرَّشِيْدُ لَوْ مَنَعْتَهُمَا لِعَاتَبْتُكَ عِتَابًا شَدِيْدًا، فَإِنَّهُمَا لَمْ يَفْعَلَا شَيْئًا يَسْقُطُ مِنْ قَدْرِهِمَا، بَلْ إِنَّهُ يُزِيْدُ فِى شَرَفِهِمَا، وَقَدْ كَافَأْتُهُمَا عَلَى أَدَبِهِمَا : عِشْرِيْنَ أَلْفَ دِيْنَارٍ، وَلَكَ : عشْرَةُ آلَافِ دِرْهَمٍ، عَلَى حُسْنِ تَأْدِيْبِكَ لَهُمَا
3. Harun Ar-Rasyid menyerahkan kedua anaknya yaitu Al-Amin dan Al-Ma’mun, pada seorang guru yang sangat berilmu, namanya Al-Kisa’iy, Pada suatu hari sang guru berdiri, untuk keluar dari tempat mereka, maka kedua anak itu berlomba-lomba untuk mengambilkan kedua sandalnya, dan mereka berselisih untuk memberikannya kepada guru mereka, kemudian keduanya bersepakat untuk setiap orang memberikan masing-masing sebuah sandal. Ar-rasyid mendengar hal itu, lalu menyuruh orang datang kepadanya. Kemudian ia berkata kepadanya, “siapa orang yang paling mulia?” Al kisaaiy menjawab “ Amirul Mukminin”. Ar-Rasid berkata, “ tidak, orang yang paling mulia adalah orang yang anak-anak amirul mukminin berlomba untuk mengambilkan sandalnya.” Sang guru merasa risau akan hal tersebut dan mengira ia telah berbuat kesalahan serta ingin melarang mereka melakukannya dilain waktu. Maka Ar-Rasyid berkata “ adaikata anda melarang mereka, tentu aku akan menegurmu dengan keras.karena seseungguhnya Kedua anak itu tidak melakukan sesuatu yang menjatuhkan derajat mereka. Bahkan hal itu menambah kemuliaan mereka. Aku telah memberi imbalan kepada mereka 20 ribu dinar atas sopan santun mereka, dan bagimu 10 ribu dirham atas pendidikanmu yang baik terhadap mereka.”
4- وَحُكِىَ أَنَّ هَارُوْنَ الرَّشِيْدَ أَيْضًا : بَعَثَ أَحَدَ أَبْنَائِهِ إِلَى الْأَصْمَعِىِّ، لِيُعَلِّمَهُ الْعِلْمِ وَالْأَدَبَ، فَرَآهُ يَوْمًا يَتَوَضَّأَ وَيَغْسِلُ رِجْلَهُ، وَابْنُ الْخَلِيْفَةِ يَصُبُّ الْمَاءَ عَلَى رِجْلِهِ، فَعَاتَبَ الْأَصْمَعِىَّ فِى ذَلِكَ بِقَوْلِهِ : إِنَّمَا بَعَثْتُهُ إِلَيْكَ : لِتُعَلِّمَهُ وَتُؤَدِّبَهُ، فَلِمَاذَا لَمْ تَأْمُرْهُ : بِأَنْ يَصُبَّ الْمَاءَ بِإِحْدَى يَدَيْهِ، وَيَغْسِلَ بِالْأُخْرَى رِجْلَكَ؟
4.Diceritakan bahwa Harun Ar-Rasyid juga : mengirim salah seorang putranya kepada Al Ashmaiy, agar ia mengajarinya ilmu dan adab. Pada suatu hari ia melihatnya berwudu dan mencuci kakinya, sementara putra khalifah menuangkan air di atas kakinya maka ia menegur Al-Ashamiy atas hal itu dengan perkataan : Sesungguhnya aku mengirimnya kepadamu : agar supaya engkau mengajari dan mendidiknya, mengapa anda tidak menyuruhnya : menuangkan air dengan tangannya yang satu, dan mencuci kakimu dengan tangannya yang lain?”
============================================








