Setiap bait dalam Maulid Simtudduror adalah untaian mutiara yang melukiskan keagungan Nabi Muhammad SAW. Namun, pada bagian penutupnya, Al-Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi mempersembahkan sebuah mahakarya lain: sebuah doa yang menjadi puncak dari segala kerinduan, harapan, dan adab seorang hamba di hadapan Tuhannya. Doa ini bukanlah sekadar daftar permohonan, melainkan sebuah monolog spiritual yang terstruktur, mengajarkan kita bagaimana cara meminta dengan penuh kerendahan hati melalui wasilah (perantara) yang paling agung.
Mari kita selami kandungan doa yang luar biasa ini, bagian demi bagian.
1. Prolog Penuh Kerendahan Hati: Pengakuan Sang Penulis
Sebelum memanjatkan permohonan, Habib Ali memulai dengan sebuah pengakuan yang menunjukkan puncak kerendahan hati. Setelah selesai menyusun untaian sifat-sifat mulia sang Nabi, beliau tidak merasa bangga, melainkan segera menghadapkan diri kepada Allah.
تَوَجَّهْتُ اِلَى اللهِ مُتَوَسّلاً بِسَيّدِيْ وَحَبِيْبِيْ مُحَمَّدٍ … اَنْ يَجْعَلَ سَعْيِي فِيْهِ مَشْكُوْرًا وَفِعْلِيْ فِيْهِ مَحْمُوْدًا ۩
Kuhadapkan diriku ke hadirat Ilahi, seraya bertawasul dengan pemimpin dan kekasihku: Muhammad SAW. Semoga Allah SWT berkenan menjadikan usahaku menyusun ini sebagai suatu yang terpuji dan mendatangkan ganjaran bagiku.
Ini adalah pelajaran adab yang pertama: mengakui bahwa segala usaha hanyalah sebuah ikhtiar, dan hanya Allah yang berhak menilai dan menerimanya. Beliau berharap agar karyanya dicatat sebagai amal yang diterima (اْلاَعْمَالِ اْلمَقْبُوْلَةْ) dan niatnya dianggap sebagai niat yang tulus (التَّوَجُهَاتِ اْلخَالِصَةِ).
2. Inti Permohonan: Bertawasul dengan Wasilah Termulia
Setelah menunjukkan kerendahan hati, doa ini beralih ke inti dari metodenya: tawassul atau menjadikan perantara. Habib Ali tidak langsung meminta, tetapi mengetuk “pintu” Allah melalui wasilah yang paling dicintai-Nya.
نَتَوَجَّهُ اِلَيْكَ ۩ بِاَشْرَفِ اْلوَسَائِلِ لَدَيْك ۩ سَيّدِ الْمُرْسَلِيْن ۩ عَبْدِكَ الصَّادِقِ اْلأَمِينْ ۩ سَيّدِنَا مُحَمَّدِ الَّذِيْ عَمَّتْ رِسَالَتُهُ اْلعَالَمِيْن ۩
Sesungguhnya kami menghadap kepada-Mu, dengan semulia-mulia wasilah di sisi-Mu: Penghulu Segenap Rasul, hamba-Mu yang selalu benar dalam ucapannya, yang selalu tulus terpercaya, Junjungan kami: Muhammad, yang risalahnya meliputi seluruh jagat raya.
Ini adalah adab kedua: mengakui keagungan sang wasilah. Doa ini tidak terburu-buru. Ia terlebih dahulu memuji dan mengagungkan Nabi Muhammad SAW dengan sebutan-sebutan termulia: tempat penyimpanan amanah Allah (مُسْتَوْدَعِ اَمَانَتِكَ), pemegang rahasia-Nya (وَحَفِيْظِ سِرّكْ), pembagi karunia-Nya (قَاسِمِ اِمْدَادِكَ), dan pemuka seluruh alam (سَيّدِ الْكَوْنَيْنِ).
3. Permohonan untuk Diri: Penjagaan dan Kedekatan Spiritual
Setelah adab dipenuhi, barulah permohonan-permohonan spesifik dipanjatkan. Dimulai dari permohonan untuk diri sendiri yang bersifat sangat spiritual.
اَنْ تُلَاحِظَنَا فِى حَرَكَاتِنَا وَسَكَنَاتِنَا بِعَيْنِ عِنَايَتِكْ ۩ وَاَنْ تَحْفَظَنَا فِى جَمِيْعِ اَطْوَرِنَا وَتَقَلُّبَاتِنَا بِجَمِيْلِ رِعَايَتِكْ ۩
Agar Kau berkenan menjaga dan memelihara kami, dalam segala gerak dan diam kami, dengan pandangan inayah-Mu. Dan memberikan perlindungan-Mu kepada kami, dalam segala keadaan dan tindakan kami, dengan pimpinan-Mu yang sempurna.
Permohonan ini mencakup perlindungan total—”dalam segala gerak dan diam kami”—menunjukkan kesadaran penuh bahwa seorang hamba selalu membutuhkan penjagaan Ilahi dalam setiap detik kehidupannya. Puncak dari harapan pribadi ini adalah tercapainya kedekatan (اْلقُرْبِ) dengan Allah dan dengan sang Nabi, serta diterimanya segala niat dan amal.
4. Permohonan untuk Umat dan Dunia: Rahmat yang Menyeluruh
Doa ini tidak berhenti pada kepentingan pribadi. Cakupannya meluas, memohon kebaikan bagi seluruh umat dan dunia. Ini adalah cerminan dari hati yang mengikuti jejak Nabi Muhammad, sang Rahmatan lil ‘Alamin. Permohonan ini meliputi:
- Pengampunan dan Kebaikan: Memohon ampunan (
بِالْغُفْرَاْن) bagi yang berdosa dan kebaikan (بِالْاِحْسَانْ) bagi yang lalai. - Keberkahan yang Merata: Memohon agar keberkahan sang Nabi meliputi anak-anak, orang tua, dan seluruh kaum muslimin di penjuru dunia.
- Kesejahteraan Umat: Memohon agar penderitaan mereka yang susah dihilangkan (
وَاكْشِفِ ... كُرْبَةَ اْلمَكْرُوْبِينْ), utang mereka yang berutang dilunasi (وَاقْضِ دَيْنَ الْمَدِيْنِينْ), dan taubat mereka diterima. - Keadilan dan Kejayaan Islam: Memohon agar keadilan ditegakkan oleh para pemimpin yang benar, dan agar panji-panji Islam tetap berkibar jaya di seluruh negeri.
5. Harapan di Akhir Hayat dan Penutup Sempurna
Sebagai puncak dari segala harapan, doa ini ditutup dengan permohonan terpenting bagi setiap insan beriman: sebuah akhir yang baik (husnul khatimah).
وَاِذَا تَوَفَّيْتَنَا فَتَوَفَّنَا مُسْلِمِيْنَ مُؤْمِنِينْ ۩ وَاخْتِمْ لَنَا مِنْكَ بِخَيِرٍ اَجْمَعِيْن ۩
Dan bila tiba saat Engkau mencukupkan masa hidup kami, wafatkanlah kami sebagai muslim dan mukmin sejati. Dan penuhilah akhir hidup kami semua, dengan kebaikan dari sisi-Mu.
Ini adalah pengakuan bahwa tujuan akhir dari segala amal dan doa adalah untuk kembali kepada Allah dalam keadaan yang diridhai-Nya. Doa ini kemudian ditutup dengan cara yang paling sempurna: dengan kembali melimpahkan shalawat dan salam kepada sang Nabi tercinta, dan diakhiri dengan pujian kepada Tuhan semesta alam, اَلْحَمْدُللهُ رَبّ الْعَالَمِيْنَ.
Secara keseluruhan, doa penutup Maulid Simtudduror adalah sebuah kurikulum lengkap tentang adab berdoa. Ia mengajarkan kita untuk memulai dengan kerendahan hati, mengetuk pintu rahmat melalui wasilah yang paling agung, memuji sebelum meminta, menyeimbangkan harapan pribadi dengan kepedulian komunal, dan mengakhiri segalanya dengan harapan untuk meraih akhir yang baik.








