Dalam kitab Maulid Simtudduror, Al-Habib Ali Al-Habsyi tidak hanya mengisahkan riwayat hidup Nabi Muhammad SAW di bumi, tetapi juga mengangkat narasi ke tingkat spiritual tertinggi melalui peristiwa Isra` dan Mi’raj. Ini bukanlah sekadar perjalanan fisik, melainkan sebuah pendakian ruhani menuju puncak kehormatan yang dikhususkan Allah hanya untuk Rasul termulia.
Sebuah Kehormatan Eksklusif
Peristiwa Mi’raj digambarkan sebagai salah satu kemuliaan (الشَّرَفِ) paling agung yang dianugerahkan secara khusus kepada Nabi Muhammad SAW. Ia adalah sebuah undangan langsung untuk naik menuju hadirat Allah اْلبَرِّ اْلوَصُولْ(Yang Maha Baik dan senantiasa melimpahkan karunia-Nya).
وَمِنَ الشَّرَفِ الَّذِيْ اخْتَصَّ اللهُ بِهِ اَشْرَفَ رَسُولْ ۩ مِعْرَاجُهُ اِلَى حَضْرَةِ اللهِ اْلبَرِّ اْلوَصُولْ ۩
Dan di antara kehormatan yang dikhususkan bagi Rasul termulia ini, adalah Mi’rajnya ke hadirat Allah Maha Penyayang, yang kebaikan-Nya selalu melimpah.
Seluruh langit dan para penghuninya pun turut merasakan kemuliaan ini, bermandikan cahaya dari Sang Pelita (السِّرَاجْ) yang menerangi mereka.
Perjalanan Melintasi Tujuh Lapis Langit
Didampingi oleh malaikat Al-Amin, Jibril, Rasulullah SAW memulai pendakiannya menuju hadirat Sang Raja Maha Agung (اْلمَلِكِ الْجَلِيلْ). Perjalanan ini dipenuhi dengan penghormatan dan pemuliaan di setiap tingkatannya.
فَمَا مِنْ سَمَآءٍ وَلَجَهَا اِلَّا وَبَادَرَهُ اَهْلُهَا بِالتَّرْحِيْبِ وَالتَّكْرِيْمِ وَالتَّأْهِيْل ۩
Tiada langit yang dimasukinya, kecuali segera menyongsong kedatangannya dengan penghormatan dan berbagai ucapan selamat datang.
Di setiap lapisan langit, beliau disambut dengan hangat oleh para penghuninya. Para Rasul yang beliau temui pun turut memberikan kabar gembira, menegaskan kembali apa yang telah mereka ketahui tentang kedudukan luhur dan martabat tinggi Nabi Muhammad SAW di sisi Allah.
Puncak Mi’raj: Hadirat Mutlak Tiada Berbatas
Perjalanan ini melampaui batas-batas alam ciptaan. Setelah melewati tujuh lapis langit (السَّبْعَ الطِّبَاقْ), beliau mencapai حَضْرَةِ اْلإِطْلَاقْ—sebuah dimensi Hadirat Mutlak yang tak terikat oleh ruang dan waktu. Di sinilah puncak dari Mi’raj terjadi. Beliau disambut langsung oleh Hadirat Ilahi dengan limpahan anugerah:
- Belaian Keakraban (
غَوَامِرُ النَّفَحَاتِ الْقُرْبِيَّةْ): Limpahan karunia yang menunjukkan kedekatan dan keintiman yang luar biasa. - Salam Kehormatan (
بِشَرِيْفِ التَّسْلِيْمَاتْ): Sambutan dan salam termulia dari Sang Pencipta. - Anugerah Terindah (
بِجَزِيْلِ اْلعَطِيَّاتْ): Pemberian-pemberian agung sebagai bentuk pemuliaan.
Dalam momen sakral ini, terjadi sebuah dialog agung, di mana sang hamba mempersembahkan puji-pujian tertinggi (التَّحِيَّاتُِ اْلمُبَارَكَاتِ الصَّلَوَاتُِ اْلطَّيّباَتُِ), dan Dzat Yang Maha Agung membalasnya dengan rahmat dan anugerah. Ini adalah momen di mana “Dzat (Rasul) memberi kesaksiannya bagi keagungan Dzat (Allah) Tuhannya” (تَشْهَدُ فِيْهَا الذَّاتُ لِلذَّاتْ).
Karunia yang Tak Terlukiskan
Pengalaman dan pengetahuan yang diterima Rasulullah SAW dalam momen ini berada di luar jangkauan pemahaman makhluk mana pun. Allah SWT mewahyukan secara langsung kepada hamba-Nya apa yang Dia kehendaki untuk diwahyukan.
فَاَوْحَى اِلَى عَبْدِهِ مَا اَوْحَى ۩ مَا كَذَبَ اْلفُؤَادُ مَا رَأَى ۩
Tatkala… Allah mewahyukan kepada hamba-Nya apa yang diwahyukan-Nya. Dan tiada hati Rasul mendustakannya….
Karunia ini begitu agung, sehingga يَعْجِزُ عَنْ حَمْلِهِ الثَّقَلَانْ (jin dan manusia tak akan sanggup memikulnya). Teks Simtudduror menegaskan bahwa hakikat dari anugerah ini adalah sebuah rahasia yang tak akan mampu diuraikan oleh pena penulis mana pun, dan tak akan sanggup diungkapkan oleh lisan siapa pun.
Ini adalah sebuah tingkatan (رُتْبَةٌ) yang عَزَّتْ عَلى غَيْرِ سَيّدِ اْلمُرْسَلِينْ (tiada mungkin tercapai kecuali bagi penghulu para rasul). Maka, sungguh berbahagialah Hadirat Muhammad (فَهَنِيْئًا لِلْحَضْرَةِ اْلمُحَمَّدِيَّةْ) yang telah mencapai kedudukan agung ini dan menerima anugerah tak terhingga dari Hadirat Allah Yang Maha Esa.







