Nanti malam, langit di seluruh Indonesia akan dihiasi fenomena langka dan indah: gerhana bulan total. Bagi kita umat Islam, momen istimewa ini dianjurkan untuk diisi dengan ibadah, salah satunya adalah shalat sunnah gerhana bulan atau shalat khusuf.
Mungkin banyak yang bertanya, “Apakah shalat gerhana harus selalu berjamaah di masjid?” Jawabannya: tidak harus. Anda sangat boleh melaksanakannya sendirian di rumah.
Bahkan, menurut penjelasan para ulama, beberapa mazhab besar seperti Mazhab Hanafi dan Maliki justru menganjurkan shalat gerhana bulan dilakukan sendiri-sendiri di rumah. Alasannya cukup sederhana, pada zaman Rasulullah SAW, gerhana bulan pernah terjadi beberapa kali, namun tidak ada riwayat kuat yang menyebutkan Rasulullah SAW secara khusus mengumpulkan orang banyak untuk shalat berjamaah. Ini menjadi isyarat bahwa ibadah ini bisa dilakukan secara pribadi.
Jadi, tidak perlu khawatir jika tidak bisa ke masjid. Anda tetap bisa meraih pahala sunnahnya dengan nyaman di rumah.
Cara Paling Mudah Shalat Gerhana Bulan Sendirian
Pada dasarnya, shalat gerhana bulan itu sama seperti shalat sunnah dua rakaat biasa. Berikut adalah cara paling simpel untuk melakukannya:
1. Niat Shalat
Saat akan memulai shalat (takbiratul ihram), niatkan dalam hati untuk shalat sunnah gerhana bulan. Berikut lafal niatnya:
أُصَلِّي سُنَّةَ الخُسُوفِ رَكْعَتَيْنِ لله تَعَالَى
Ushallî sunnatal khusûf rak‘ataini lillâhi ta‘âlâ.
Artinya: “Saya niat shalat sunnah gerhana bulan dua rakaat karena Allah Ta’ala.”
2. Tata Cara Shalat (seperti shalat sunnah biasa):
- Rakaat Pertama:
- 1. Niat shalat gerhana yang dibarengi dengan takbiratul ihram. Adapun lafal niatnya adalah sebagaimana berikut:
- أُصَلِّي سُنَّةَ الخُسُوفِ رَكْعَتَيْنِ لله تَعَالَى
- Ushallî sunnatal khusûf rak‘ataini lillâhi ta‘âlâ.
- Artinya, “Saya niat shalat sunah gerhana bulan dua rakaat karena Allah SWT.”
- 2. Membaca doa Iftitah.
- 3. Membaca Ta’awudz dan Al-Fatihah.
- 4. Membaca surat Al-Qur’an dengan jahr (lantang).
- 5. Rukuk pertama (lama).
- 6. Bangkit dari ruku (I‘tidal).
- 7. Membaca surat Al-Fatihah kembali.
- 8. Membaca surat yang lebih pendek dari surat pada poin 4.
- 9. Rukuk kedua (lebih singkat dari rukuk pertama).
- 10. Bangkit dari ruku (I‘tidal).
- 11. Sujud pertama.
- 12. Duduk di antara dua sujud.
- 13. Sujud kedua.
- Rakaat Kedua:
- Bangun untuk rakaat kedua, lakukan gerakan yang sama persis seperti rakaat pertama (Al-Fatihah, surat pendek, rukuk, itidak, rukuk lagi, dst).
- Dianjurkan durasi rakaat kedua ini sedikit lebih cepat dari rakaat pertama.
- Selesai:
- Tasyahud akhir, lalu salam.
- Setelah salam, sangat dianjurkan untuk memperbanyak istighfar dan berdoa memohon ampunan dan kebaikan kepada Allah SWT.
Catatan Penting:
- Waktu Pelaksanaan: Kesunnahan shalat ini berlaku selama proses gerhana masih berlangsung. Jadi, Anda bisa mengerjakannya kapan saja di antara waktu awal hingga akhir gerhana.
- Boleh Diulang: Menurut Mazhab Maliki, jika Anda sudah selesai shalat dua rakaat namun gerhananya masih berlangsung, Anda boleh mengulang lagi shalat sunnah dua rakaat hingga gerhana benar-benar selesai.
- Ada Versi Lain? Ada. Mazhab Syafi’i misalnya, mengerjakan shalat gerhana dengan 2 kali rukuk di setiap rakaatnya. Namun, cara yang dijelaskan di atas (dengan 1 kali rukuk) sudah sah dan benar, terutama bagi yang ingin melaksanakannya dengan cara yang lebih ringkas dan mudah.
Jadwal Gerhana Bulan Total (Minggu malam – Senin dini hari, 7-8 September 2025)
- Awal Gerhana Sebagian: Pukul 23:27 WIB
- Awal Fase Total: Pukul 00:30 WIB
- Puncak Gerhana: Pukul 01:11 WIB
- Akhir Fase Total: Pukul 01:52 WIB
- Akhir Gerhana Sebagian: Pukul 02:56 WIB
Jangan lewatkan kesempatan langka ini untuk beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Selamat melaksanakan shalat gerhana!
Penjelasan Shalat Gerhana dalam Kitab Fathul Mu`in karya Syaikh Zainuddin Al-Malibari
Shalat Gerhana Matahari dan Rembulan
(وَ) صَلَاةُ (الْكُسُوْفَيْنِ) أَيْ كُسُوْفِ الشَّمْسِ وَالْقَمَرِ وَأَقَلُّهَا رَكْعَتَانِ كَسُنَّةِ الظُّهْرِ وَأَدْنَى كَمَالِهَا زِيَادَةُ قِيَامٍ وَقِرَاءَةٍ وَرُكُوْعٍ فِي كُلِّ رَكْعَةٍ.
2. Shalat Gerhana Matahari dan Rembulan Paling sedikitnya adalah dua rakaat, sebagaimana shalat sunah Zhuhur. Kesempurnaan yang paling minimal, adalah menambah berdiri, membaca Al-Fatihah dan rukuk pada tiap-tiap rakaat.
وَالْأَكْمَلُ أَنْ يَقْرَأَ بَعْدَ الْفَاتِحَةِ فِي الْقِيَامِ الْأَوَّلِ الْبَقَرَةَ أَوْ قَدْرَهَا وَفِي الثَّانِي كَمَائَتَيْ آيَةٍ مِنْهَا وَالثَّالِثِ كَمِائَةٍ خَمْسِيْنَ وَالرَّابِعِ كَمِائَةٍ.
Yang lebih sempurna, membaca surah Al-Baqarah pada rakaat pertama atau seukuran dengannya; dan pada rakaat kedua membaca sepanjang 200 ayat Al-Baqarah; rakaat ketiga 150 ayat, sedangkan pada rakaat keempat 100 ayat Al- Baqarah.
وَأَنْ يُسَبِّحَ فِي أَوَّلِ رُكُوْعٍ وَسُجُوْدٍ كَمِائَةٍ مِنَ الْبَقَرَةِ وَفِي الثَّانِي مِنْ كُلِّ مِنْهُمَا كَثَمَانِينَ وَالثَّالِثِ مِنْهُمَا كَسَبْعِيْنَ وَالرَّابِعِ كَخَمْسِيْنَ.
Kemudian, pada waktu rukuk dan sujud rakaat pertama membaca tasbih sepanjang 100 ayat Al-Baqarah, rakaat kedua sepanjang 80 ayat, rakaat ketiga 70 ayat dan rakaat keempat 50 ayat.
(بِخُطْبَتَيْنِ) أَيْ مَعَهُمَا (بَعْدَهُمَا) أَيْ يُسَنُّ خُطْبَتَانِ بَعْدَ فِعْلِ صَلَاةِ الْعِيْدَيْنِ وَلَوْ فِي غَدٍ فِيْمَا يَظْهَرُ وَالْكُسُوْفَيْنِ
Kemudian, setelah shalat diikuti dengan dua khotbah. Maksudnya, sunah melakukan dua khotbah sesudah shalat Idul Fitri dan Adha, sekalipun shalat itu dikerjakan pada keesokan harinya menurut keterangan yang lahir dan sunah melakukan dua khotbah sesudah shalat Gerhana.
وَيَنْفَتِحُ أُوْلَى خُطْبَتَيْ الْعِيدَيْنِ لَا الْكُسُوْفِ بِتِسْعِ تَكْبِيرَاتٍ وَالثَّانِيَةِ بِسَبْعٍ وَلَاءً.
(Dalam khotbah) khotib membuka khotbah pertamanya untuk shalat hari raya bukan Gerhana dengan bertakbir 9 kali, sedang khotbah kedua dengan bertakbir 7 kali, yang kesemuanya dilakukan secara sambung-menyambung.
وَيَنْبَغِي أَنْ يَفْصِلَ بَيْنَ الْخُطْبَتَيْنِ بِالتَّكْبِيْرِ وَيُكْثِرَ مِنْهُ فِي فُصُوْلِ الْخُطْبَةِ قَالَهُ السُّبْكِيُّ؟
Sebaiknya, antara kedua khotbah tersebut dipisahkan. dengan bertakbir, dan memperbanyak pembacaan takbir di sela-sela khotbah, demikian yang dikatakan oleh Imam As-Subki.
وَلَا تُسَنُّ هَذِهِ التَّكْبِيْرَاتِ لِلْحَاضِرِيْنَ.
Tidak disunahkan bagi orang- orang yang hadir ikut bertakbir seperti khotib di atas.







