Kisah kelahiran Nabi Muhammad SAW dalam kitab Maulid Simtudduror bukanlah sekadar catatan biografi. Ia adalah sebuah narasi yang ditenun dengan benang-benang keajaiban, yang setiap detailnya mengisyaratkan keagungan dan status luhur sang bayi di sisi Tuhannya. Narasi ini membawa kita untuk menyaksikan detik-detik pertama kehadiran “Sayyidil Kaunain” (Tuan di Dunia dan Akhirat) yang dipenuhi dengan tanda-tanda kenabian yang nyata.
Isyarat dari Langit dan Kesempurnaan Diri
Sejak tarikan nafas pertama, bayi Muhammad telah menunjukkan keistimewaannya. Teks Simtudduror melukiskan momen luar biasa ini:
وَحِيْنَ بَرَزَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ بَطْنِ اُمِّهِ بَرَزَ رَافِعًا طَرْفَهُ اِلَى السَّمَآءْ ۩ مؤميًا بذلك الرفع إلى أن له شرفًا علا مجده وسما ۩
Dan pada saat Nabi SAW dilahirkan ibunya, Beliau lahir seraya menunjukkan pandangan ke arah langit, bagai isyarat ia beroleh kemuliaan serta kehormatan yang tinggi menjulang.
Pandangannya yang terangkat ke langit bukanlah tatapan bayi biasa. Ia adalah sebuah isyarat simbolis, sebuah proklamasi tanpa kata bahwa insan yang baru saja lahir ini memiliki kedudukan (syaraf) dan kemuliaan (majd) yang menjulang tinggi, yang terhubung langsung dengan Sang Pencipta di langit.
Keistimewaan ini diperkuat dengan kondisi fisiknya yang sempurna, seolah telah disiapkan oleh tangan-tangan qudrah Ilahi:
وَقَدْ وَرَدَاَنَّهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وُلِدَمَخْتُوْناً مَكْحُوْلاً مَقْطُوْعَ السُّرَّةْ ۩ تَوَلَّتْ ذَالِكَ لِشَرَفِهِ عِنْدَاللهِ اَيْدِى الْقُدْرَةْ ۩
Dan telah diriwayatkan bahwa beliau dilahirkan dalam keadaan telah terkhitan, bermata bagaikan bercelak, tali pusatnya telah terpotong bersih. Semua itu terlaksana dengan kuasa qudrah Ilahi, berkat keluhuran kedudukannya, di sisi Tuhannya.
Kesaksian Asy-Syiffa’: Cahaya yang Menembus Timur dan Barat
Keajaiban kelahiran ini tidak hanya disaksikan secara simbolis, tetapi juga dialami secara langsung oleh mereka yang hadir. Salah satu kesaksian terpenting datang dari Asy-Syiffa’, ibunda dari sahabat mulia Abdurrahman bin ‘Auf. Ia adalah bidan yang menyambut langsung kelahiran sang Nabi.
Asy-Syiffa’ menuturkan, begitu bayi Muhammad lahir dan ia menyambutnya, ia mendengar tangisan pertama sang bayi. Namun, tangisan itu segera diikuti oleh suara gaib yang agung, “Semoga rahmat Allah atas dirimu” (رَحِمَكَ اللهُ).
Keajaiban paling mencengangkan adalah munculnya sebuah cahaya benderang yang tak terlukiskan. Asy-Syiffa’ bersaksi:
فَاَضَآءَ لَهُ مَابَيْنَ اْلمَشْرِقِ وَاْلمَغْرِبْ ۩ حَتّى نَظَرْتُ اِلى بَعْضِ قُصُوْرِالرُّومْ ۩
Dan aku pun menyaksikan cahaya benderang di hadapannya menerangi timur dan barat, hingga aku dapat melihat sebagian gedung-gedung bangsa Rum (Romawi).
Cahaya ini bukanlah cahaya biasa. Ia adalah cahaya nubuwah, sebuah pertanda bahwa risalah yang akan dibawa oleh bayi ini bersifat universal, akan menyebar dari ujung timur hingga ujung barat, meruntuhkan hegemoni kekaisaran besar seperti Romawi.
Perjalanan Ruhani di Malam Kelahiran
Kesaksian Asy-Syiffa’ berlanjut dengan peristiwa yang lebih misterius. Setelah menidurkan sang bayi, ia diliputi kegelapan dan rasa takut yang datang silih berganti dari sisi kanan dan kirinya. Di tengah rasa takut itu, ia mendengar dialog antara dua suara gaib yang bertanya, “Ke mana ia kau bawa pergi?” lalu dijawab, “Ke barat!” dan kemudian, “Ke timur!”
Peristiwa ini sering ditafsirkan sebagai sebuah perjalanan ruhani, di mana bayi Muhammad SAW “diperkenalkan” kepada seluruh penjuru bumi yang kelak akan menjadi wilayah dakwahnya. Ia seolah dibawa untuk “disaksikan” oleh alam semesta sebagai pemimpin dan pembawa rahmat yang baru telah tiba.
Pengalaman luar biasa ini begitu membekas di benak Asy-Syiffa’. Maka, ketika puluhan tahun kemudian Muhammad diutus menjadi Rasul, ia tidak ragu sedikit pun dan menjadi salah satu orang yang pertama masuk Islam.
Penegasan Risalah Universal
Narasi kelahiran dalam Simtudduror ini ditutup dengan penegasan bahwa semua keajaiban dan mukjizat ini adalah bukti nyata (ayat bayyinat) akan tingginya kedudukan Nabi Muhammad SAW di sisi Allah. Ia adalah insan yang senantiasa berada dalam penjagaan ('inayah) Ilahi, dan dialah sang petunjuk sejati ke jalan yang lurus (الْهَادِى اِلى الصّرَاطِ اْلمُسْتَقِيمْ).







