Setelah berkelana dalam samudra riwayat agung Nabi Muhammad SAW, dari kelahiran hingga Mi’raj, kitab Maulid Simtudduror tiba pada babak penutup yang merangkum esensi dari segala kemuliaan: akhlak beliau yang luhur. Al-Habib Ali Al-Habsyi, sang penyusun, seolah ingin menegaskan bahwa inti dari segala keajaiban dan kemuliaan sang Nabi bermuara pada kesempurnaan budi pekertinya—sebuah samudra yang begitu luas hingga “terasa sempit kitab-kitab besar untuk merangkumnya.”
Puncak Keindahan Lahir dan Batin
Dasar dari segala pujian adalah pengakuan bahwa Rasulullah SAW adalah manifestasi kesempurnaan ciptaan Allah, baik secara fisik (khalq) maupun karakter (khuluq).
كَانَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اَحْسَنَ النَّاسِ خُلُقًا وَخَلْقًا ۩ وَاَوَّلَهُمْ اِلى مَكَارِمِ اْلاَخْلَاقِ سَبْقًا ۩
Sebab beliau sebaik-baik manusia dalam keindahan akhlaq ataupun bentuk tubuhnya, dan selalu terdepan dalam berbuat kebajikan.
Beliau bukan hanya reaktif terhadap kebaikan, tetapi proaktif dan menjadi pelopor (سَبْقًا) dalam setiap perbuatan mulia. Keindahan fisiknya adalah cermin dari keindahan batinnya yang tak tertandingi.
Rahmat yang Merata, Kasih Sayang yang Melimpah
Keluhuran akhlak beliau paling nyata terasa dalam interaksinya dengan sesama, khususnya kepada kaum beriman. Beliau adalah perwujudan dari sifat حِلْمًا (lemah lembut, tidak mudah marah) dan رِفْقًا (kasih sayang).
بَرًّا رَؤُفًا ۩ لَايَقُولُ وَلَايَفْعَلُ اِلَّا مَعْرُوْفًا ۩
Teramat baik, teramat penyantun. Tiada berucap sesuatu melainkan berisi kebaikan.
Prinsip hidupnya sederhana namun agung: setiap ucapan dan perbuatannya haruslah ma'ruf—sesuatu yang baik, pantas, dan diakui oleh syariat maupun akal sehat. Beliau adalah figur yang mudah didekati (اْلخُلُقُ السَّهْلُ), namun tutur katanya selalu padat berisi makna (اْلمَعْنَى اْلجَزْلْ).
Kepeduliannya terhadap kaum lemah adalah bukti paling nyata dari kasih sayangnya. Saat seorang miskin memanggilnya, beliau menanggapinya dengan segera. Beliau memposisikan dirinya sebagai “ayah penuh kasih sayang untuk si yatim-piatu atau janda yang lemah” (اْلاَبُ الشَّفِيْقُ الرَّحِيْمُ بِالْيَتِيْمِ وَاْلاَرْمَلَةْ).
Wibawa Agung dalam Balutan Kerendahan Hati
Salah satu keunikan akhlak Nabi Muhammad SAW adalah perpaduan antara sifat yang mudah didekati dengan wibawa yang agung.
وَلَهُ مَعَ سُهُوْلِةِ اَخْلَاقِهِ اْلهَيْبَةُ القَوِيَّةْ ۩ اَلَّتِيْ تَرْتَعِدُ مِنْهَا فَرَائِصُ اْلاَقْوِيَاءِ مِنَ اْلبَرِيَّةْ ۩
Rendah hatinya namun amat kuat wibawanya, membuat orang paling kuat pun gemetar berhadapan dengannya.
Kerendahan hatinya tidak membuatnya kehilangan wibawa, dan kewibawaannya tidak membuatnya menjadi sosok yang menakutkan atau sulit dijangkau. Inilah puncak keseimbangan karakter yang hanya dimiliki olehnya.
Sumber Segala Kebaikan dan Keharuman
Kehadiran beliau membawa keharuman, baik secara harfiah maupun kiasan. Jalanan yang beliau lewati dan rumah yang beliau singgahi menjadi semerbak harum. Begitu pula majelis dan pertemuan menjadi wangi dan mulia hanya dengan menyebut namanya (بِعَرْفِ ذِكْرِهِ).
Pada hakikatnya, beliau adalah titik pusat dari segala sifat kesempurnaan (جَامِعُ الصِّفَاتِ كَمَالِيَّةْ). Maulid Simtudduror bahkan menegaskan sebuah kaidah agung:
فَمَا مِنْ خُلُقٍ فِى الْبَرِيَّةِ مَحْمُودْ ۩ إِلَّا وَهُوَ مُتَلَقًّى عَنْ زَيْنِ الْوُجُودْ ۩
Maka tiada satu pun perangai manusia terpuji, melainkan pasti bersumber dari dirinya (sebagai hiasan terbaik seluruh wujud).
Penutup: Salam Agung untuk Sang Pemimpin
Setelah pena seolah lelah mencoba melukiskan samudra yang tak bertepi ini, penulis menyadari bahwa inilah saatnya untuk menarik kendali. Setelah mengisahkan kemuliaan akhlak sang Nabi, tidak ada penutup yang lebih pantas dan lebih agung daripada mempersembahkan salam penghormatan.
فَحَسُنَ مِنّيْ اَنْ اُمْسِكَ اَعِنَّةَ الْاَقْلَامْ ۩ فِى هذَا الْمَقَامْ ۩ وَاَقْـَرأَ السَّلَامْ ۩ عَلَى سَيّدِ اْلاَنَامْ ۩
Kini tiba saat menarik kembali kendalinya di tempat ini, untuk mengucapkan salam atas pemimpin penghuni alam.
Sebagaimana pembukaan maulid yang agung, maka penutupnya pun haruslah agung. Dan penutup termulia adalah ucapan salam sejahtera kepada sang junjungan, Nabi Muhammad SAW, yang atasnya tercurah shalawat dan salam yang paling utama.








