Setelah wahyu pertama turun di Gua Hira, sebuah lembaran baru dalam sejarah kemanusiaan dimulai. Teks Maulid Simtudduror menggambarkan fase berikutnya sebagai momen di mana Nabi Muhammad SAW secara resmi memikul beban suci kenabian. Ini adalah periode dakwah, pembuktian risalah, dan manifestasi keajaiban yang meneguhkan statusnya sebagai utusan Allah yang termulia.
Seruan di Atas Bashirah dan Sambutan Hati yang Bercahaya
Dengan turunnya wahyu, Nabi Muhammad SAW tidak lagi menjadi pribadi yang menyendiri. Beliau kini mengemban amanah agung untuk menyeru umat manusia kembali ke jalan Allah.
ثُمَّ اِنَّهُ بَعْدَ مَانَزَلَ عَلَيْهِ اْلوَحْيُ اْلبَلِيغْ ۩ تَحَمَّلْ اَعْبَآءَ الدَّعْوَةِ وَالتَّبْلِيغْ ۩
Adapun Nabi SAW, setelah turun kepadanya wahyu suci yang tersampaikan, segera bertindak memikul beban dakwah dan tabligh (menyampaikan).
Dakwah beliau tidak didasarkan pada spekulasi atau paksaan, melainkan di atas bashirah—sebuah kesadaran, ilmu, dan keyakinan yang jernih. Seruan yang tulus ini disambut oleh jiwa-jiwa yang telah dipersiapkan oleh takdir Allah. Mereka adalah orang-orang yang memiliki “pikiran terang” (بَصِيْرَةٌ مُنِيْرَةْ), yang dengan segera menerima kebenaran. Kehormatan sebagai golongan pertama yang beriman ini dianugerahkan Allah kepada kaum Muhajirin dan Anshar. Dengan tekad beliau dan para sahabat setianya inilah, Allah menyempurnakan agama Islam dan menundukkan kekuatan orang-orang kafir dan para penentang kebenaran.
Rentetan Mukjizat: Bukti Keagungan di Langit dan Bumi
Untuk menguatkan risalahnya, Allah SWT menganugerahkan Nabi Muhammad SAW berbagai mukjizat agung. Keajaiban-keajaiban ini bukanlah sekadar pertunjukan, melainkan bukti nyata (آيَاتْ بَيِّنَاتْ) yang menunjukkan statusnya sebagai makhluk termulia di seluruh langit dan bumi. Di antara mukjizat-mukjizat tersebut adalah:
- Memperbanyak yang Sedikit (
تَكْثِيْرُ اْلقَلِيلْ): Seperti saat makanan atau air yang sedikit dapat mencukupi pasukan yang besar. - Menyembuhkan yang Sakit (
بُرْءُ اْلعَلِيْل): Banyak riwayat mencatat bagaimana beliau menyembuhkan penyakit dengan izin Allah. - Alam pun Tunduk Kepadanya: Bebatuan mengucapkan salam (
تَسْلِيْمُ اْلحَجَرْ), pepohonan berjalan menaunginya (طَاعَةُ الشَّجَرْ), dan puncaknya adalah terbelahnya bulan (وَانْشِقَاقُ اْلقَمَرْ) sebagai jawaban atas tantangan kaum kafir. - Menyingkap Hal Gaib (
اْلاِخْبَارُ بِاْلمُغَيَّبَاتْ): Beliau mengabarkan peristiwa-peristiwa masa depan yang kemudian terbukti benar. - Kelembutan Hati pada Makhluk: Batang kurma yang biasa beliau gunakan bersandar menangis rindu (
حَنِيْنُ الْجِذْعِ) saat dibuatkan mimbar baru. - Kesaksian dari Dunia Hewan: Bahkan hewan seperti biawak (
الضَّبِّ) dan kijang (الْغَزَالَةْ) dengan izin Allah memberikan kesaksian atas kenabian dan kerasulan beliau.
Mukjizat-mukjizat luar biasa ini, beserta tanda-tanda kenabian (إِرْهَاصَاتْ) yang telah muncul bahkan sebelum beliau diutus, adalah pendukung terkuat bagi risalahnya.
Dua Respons: Kebahagiaan Iman dan Kecelakaan Kufur
Menghadapi rentetan bukti yang begitu jelas, manusia terbagi menjadi dua golongan. Tersiarnya kabar tentang mukjizat-mukjizat ini mendatangkan kebahagiaan dan memperteguh iman kaum mukminin yang tulus.
وَمَعَ ظُهُوْرِهَا وَانْتِشَارِهَا سَعِدَبِهَا الصَّادِقُوْنَ مِنَ اْلمُؤْمِنِيْن َ۩
Tersiarnya itu semua secara meluas, mendatangkan bahagia bagi kaum beriman yang tulus.
Namun sebaliknya, bagi mereka yang hatinya tertutup oleh kesombongan dan kekafiran, semua tanda kebesaran ini justru membawa mereka pada kecelakaan dan penolakan. Pada akhirnya, Maulid Simtudduror menegaskan sebuah kaidah universal:
وَتَلَقَّاهَا بِالتَّصْدِيْقِ وَالتَّسْلِيمْ ۩ كُلُّ ذِيْ قَلْبٍ سَلِيمْ ۩
Dan tiada satu pun orang berpikiran sehat (memiliki hati yang selamat), kecuali pasti menerimanya dengan keyakinan serta penyerahan sepenuhnya.
Hanya hati yang bersih dan selamat (قَلْبٍ سَلِيمْ) yang mampu menangkap cahaya kebenaran ini dan menerimanya dengan penuh ketulusan dan kepasrahan.








