Kitab Maulid Simtudduror melukiskan perjalanan hidup Nabi Muhammad SAW dengan untaian kata yang sarat akan makna dan keagungan. Setelah mengisahkan kelahirannya yang penuh keajaiban, narasi berlanjut pada fase pertumbuhannya yang luar biasa, sebuah periode yang menjadi bukti nyata atas statusnya sebagai insan pilihan yang dipersiapkan untuk misi agung.
Pertumbuhan dalam Naungan Ilahi
Sejak awal, pertumbuhan Nabi Muhammad SAW tidaklah seperti anak-anak pada umumnya. Beliau tumbuh dalam kesempurnaan sifat dan karakter, senantiasa berada dalam penjagaan dan limpahan rahmat Allah SWT.
فَنَشَأَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى اَكْمَلِ اْلاَوْصَافْ ۩ يَحُفُّهُ مِنَ اللهِ جَمِيْلُ الرّعَايَةِ وَغَامِرُ الْاَلْطَافْ ۩
Rasulullah SAW tumbuh dengan sifat-sifat paling sempurna, dikelilingi selalu pemeliharaan Allah Maha Kuasa serta diliputi rahmat-Nya berlimpah-limpah.
Pertumbuhan fisiknya pun begitu pesat dan menakjubkan, seolah waktu berakselerasi untuknya. “Ia tumbuh dalam sehari seperti bayi lain dalam sebulan” (فَكَانَ يَشِبُّ فِى اْليَوْمِ شَبَابَ الصَّبِيّ فِى الشَّهْرِ). Keluhuran pribadinya yang sempurna telah tampak sejak usia belia, menjadi saksi bisu bahwa dialah Sayyid Waladi Adam (penghulu seluruh keturunan Adam).
Bintang-bintang kemujuran senantiasa menaunginya, dan seluruh alam semesta seakan tunduk dan patuh padanya. Keberkahannya begitu nyata; setiap kali beliau mendoakan orang sakit, Allah memberinya kesembuhan. Setiap kali beliau memohon hujan, Allah senantiasa menurunkannya.
Puncak Kematangan dan Turunnya Wahyu Pertama
Demikianlah keadaan beliau, melewati masa muda hingga mencapai usia dewasa yang matang (حَتَّى بَلَغَ مِنَ اْلعُمْرِاَشُدَّهْ). Pada puncak kesiapannya inilah, sebuah anugerah agung yang khusus ditujukan hanya untuknya datang dari hadirat Ilahi. Ar-Ruhul Amin, Malaikat Jibril, turun kepadanya.
فَنَزَلَ عَلَيْهِ الرُّوْحُ الْآمِينْ ۩ بِالْبُشْرى مِنْ رَبِّ اْلعَالَمِينْ ۩
Dan turunlah Jibril Ar-Ruhul Amin, membawa kabar gembira dari Tuhan Seru Sekalian Alam.
Jibril datang membawa wahyu pertama, sebuah momen yang menandai dimulainya era kenabian. Ayat-ayat pertama yang turun kepadanya adalah firman Allah yang penuh dengan hikmah dan menjadi fondasi dari seluruh risalah Islam:
اِقْرَأْ بِاسْمِ رَبّكَ الَّذِيْ خَلَقْ ۩ خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقْ ۩ اِقْرَأْ وَرَبُّكَ اْلاَكْرَمْ ۩ اَلَّذِيْ عَلَّمَ بِالْقَلَمْ ۩ عَلَّمَ اْلاِنْسَانَ مَالَمْ يَعْلَمْ ۩
“Bacalah dengan nama Tuhanmu yang mencipta. Yang telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah! Tuhanmulah yang paling mulia. Yang mengajar dengan kalam. Mengajar manusia apa yang tidak ia tahu.”
Penegasan Status sebagai Insan Pilihan
Peristiwa agung ini adalah kabar gembira (بِشَارَةٍ) yang datang langsung dari hadirat Allah, Sang Maha Pemurah. Ia adalah penegasan atas status luhur “insan mulia ini” (هَذَالْاِنْسَانْ).
Simtudduror kemudian menguatkan argumen ini dengan mengutip firman Allah dari surah Ar-Rahman:
الرَّحْمنُ عَلَّمَ ااْلقُرْآنْ ۩ خَلَقَ اْلاِنْسَانَ عَلَّمَهُ اِلبَيَانْ ۩
“Ar-Rahman (Tuhan Maha Pemurah) mengajarkan Al-Quran. Dia menciptakan manusia. Mengajarnya pandai berbicara.”
Habib Ali Al-Habsyi menutup bagian ini dengan sebuah kesimpulan yang tak terbantahkan: “Dan tiada syak (diragukan) lagi, tentunya beliaulah insan yang dimaksud dengan pemberian ajaran itu dari hadirat Allah, Yang Maha Rahman dan Rahim.”
Dengan turunnya wahyu pertama, fase persiapan telah berakhir. Sang insan yang tumbuh dengan kesempurnaan sifat dan di bawah naungan Ilahi kini secara resmi diutus untuk memulai misinya: menyampaikan risalah, membimbing umat manusia dari kegelapan menuju cahaya, dan menjadi rahmat bagi seluruh alam.






