Narasi kelahiran Nabi Muhammad SAW dalam kitab Maulid Simtudduror mencapai puncaknya pada sebuah babak yang penuh dengan keagungan dan spiritualitas. Ini bukanlah sekadar catatan tentang lahirnya seorang bayi, melainkan sebuah lukisan tentang perayaan kosmis, manifestasi cahaya Ilahi, dan terbitnya fajar kesempurnaan bagi seluruh alam semesta.
Perayaan Langit dan Bumi
Jauh sebelum sang bayi mulia menyentuh bumi, seluruh alam semesta telah bersiap menyambutnya. Teks Simtudduror menggambarkan suasana penantian ini dengan sangat indah.
فَحِيْنَ قُرَبَ اَوَانَ وَضْعِ هَذَا الْحَبِيْب ﴿﴾ اَعْلَنَتِ السَّمَوَاتُ وَالْأَرْضُوْنَ وَمَنْ فِيْهِنَّ بِالتَّرَحِيْب ﴿﴾
Dan ketika hampir tiba saatnya kelahiran insan tercinta ini, gema ucapan selamat datang yang hangat berkumandang di langit dan di bumi.
Ini adalah sebuah penyambutan universal. Langit, bumi, dan segala isinya bergemuruh dalam satu harmoni, menyambut kedatangan sang pembawa rahmat. Kegembiraan ini tidak hanya bersifat spiritual, tetapi juga termanifestasi secara nyata. Hujan kemurahan Ilahi (وَاَمْطَARُ الْجُوْدِ اْلاِلَهِيِّ) tercurah dengan lebatnya, dan lisan para malaikat (وَاَلْسِنَةُ الْمَلَائِكَةِ) sibuk mengumumkan kabar gembira ini ke seluruh penjuru alam. Suasana agung ini diiringi dengan gema zikir semesta: Subhanallah, Walhamdulillah, Wa la ilaha illallah, Wallahu Akbar.
Terbitnya Cahaya di Atas Segala Cahaya
Momen kelahiran ini adalah saat di mana Kuasa (الْقُدْرَةُ) Allah menyingkap tabir rahasia yang selama ini tersimpan. Cahaya kenabian yang agung, yang sebelumnya tersembunyi, kini ditampakkan secara sempurna di alam nyata.
لِيَبْرُزَ نُوْرُهُ كَامِلًا فِي عَالَمِ الظُّهُوْر ﴿﴾ نُوْراً فَاقَ كُلَّ نُوْر ﴿﴾
Membuat nurnya terbit sempurna di alam nyata, cahaya yang mengungguli segenap cahaya.
Ini adalah penegasan atas konsep Nur Muhammad. Cahaya yang dilahirkan ini bukanlah cahaya biasa; ia adalah sumber dari segala cahaya, sebuah manifestasi kesempurnaan yang cahayanya melampaui segala cahaya yang pernah ada.
Kehadiran Para Wanita Suci
Sebagai bentuk pemuliaan yang luar biasa bagi Sayyidah Aminah dan bayi yang dikandungnya, Allah SWT menetapkan sebuah kehormatan yang tak tertandingi. Dalam detik-detik persalinan yang sakral itu, hadir sosok-sosok wanita pilihan yang paling mulia dalam sejarah.
فَحَضَرَتْ بِتَوْفِيْقِ اللهِ السَّيِّدَةُ مَرْيَمُ وَالسَّيِّدَةُ اَسِيَة ﴿﴾
Maka hadirlah dengan taufik Allah seorang Sayyidah Maryam dan Sayyidah Asiyah.
Kehadiran Sayyidah Maryam (ibunda Nabi Isa AS) dan Sayyidah Asiyah (istri Fir’aun yang beriman) bukan hanya untuk menjadi penghibur (تَاْنِيْساً), tetapi juga sebagai simbol penyambung risalah kenabian dan penegasan atas status luhur sang bayi. Bersama mereka, turut hadir para bidadari surga (الْحُوْرِالْعِيْنِ), menjadikan proses kelahiran ini sebuah peristiwa yang disaksikan langsung oleh penduduk langit dan bumi.
Puncak Kelahiran: Lahirnya Sang Pemuji dan Terpuji
Akhirnya, tiba saat yang telah ditentukan. Momen ini dilukiskan dengan kiasan yang begitu agung dan penuh makna.
فَاَنْفَلَقَ صُبْحُ الْكَمَالِ مِنَ النُّوْرِ عَنْ عَمُوْد ﴿﴾
Maka menyingsinglah fajar keutamaan nan cerah terang benderang menjulang tinggi….
Kelahiran Nabi Muhammad SAW diibaratkan seperti menyingsingnya “Fajar Kesempurnaan.” Kegelapan zaman berakhir, dan era baru yang dipenuhi cahaya petunjuk dan kesempurnaan dimulai.
Dan dari fajar itu, lahirlah sosok الْحَامْدُ الْمَحْمُوْد (Al-Hamid Al-Mahmud) – sang insan yang senantiasa memuji Tuhannya, dan yang dirinya sendiri senantiasa terpuji. Kondisi pertama beliau saat lahir adalah bukti nyata dari hakikat ini:
مُذْعِناً لِلَّهِ بِالتَّعْظِيْمِ وَالسُّجُوْد
Tunduk khusyu’ di hadapan Allah dengan segala penghormatan tulus dan sembah sujud.
Beliau tidak lahir dalam keadaan menangis biasa, melainkan dalam kondisi bersujud, sebuah deklarasi pertama akan statusnya sebagai hamba yang paling tunduk dan paling agung di hadapan Sang Pencipta. Detik inilah yang menjadi awal dari tercurahnya rahmat terbesar bagi seluruh alam semesta.








