Setelah kelahiran Nabi Muhammad SAW yang agung dan cahayanya mulai terpancar ke seluruh alam, takdir Ilahi menuntunnya pada fase kehidupan berikutnya yang penuh hikmah dan keajaiban: masa penyusuan di padang pasir. Tradisi bangsa Arab saat itu adalah menitipkan bayi-bayi mereka kepada para ibu susuan dari pedesaan, agar mereka tumbuh lebih kuat, sehat, dan fasih lisannya.
Takdir Memilih Sayyidah Halimah
Sebagaimana digambarkan dalam Maulid Simtudduror, para ibu susuan berlomba-lomba (تَسَابَقَتْ) untuk mendapatkan kehormatan menyusui bayi mulia dari Bani Hasyim ini. Namun, kehendak Allah Yang Mahaagung telah menetapkan pilihannya sejak azali.
فَنَفَذَ اْلحُكْمُ مِنَ اْلحَضْرَةِ اْلعَظِيْمَةْ … بِأَنَّ اْلاَوْلَى بِتَرْبِيَةِ هذَا الْحَبِيْبِ وَحَضَانَتِهِ السَّيّدَةُ حَلِيْمَةْ ۩
Dan terlaksanalah kehendak Allah Mahaagung lagi Mahabijaksana… Bahwasanya Sayyidah Halimah paling utama mendidik mengasuh insan tercinta ini.
Saat pandangan mata Halimah tertuju pada wajah sang bayi, hatinya seketika dipenuhi dengan kegembiraan dan suka cita yang meluap-luap. Ia merasakan sebuah pertanda bahwa ia telah memperoleh anugerah dan kehormatan yang tak terhingga dari Allah. Dengan kasih sayang tulus laksana seorang ibu kandung, ia memohon kepada Sayyidah Aminah untuk dipercaya mengasuh dan menyusui sang bayi, berharap mendapatkan limpahan keberkahannya yang akan meliputi seluruh alam (طَمَعًا فِى نَيْلِ بَرَكَاتِهِ الَّتِى شَمِلَتِ اْلعَا لَمِيْنَ).
Perjalanan Pulang yang Penuh Mukjizat
Setelah permohonannya dikabulkan, Halimah membawa pulang bayi Muhammad dengan hati yang berseri-seri. Perjalanan kembali ke kampungnya menjadi saksi pertama atas rentetan mukjizat yang menyertai sang Nabi.
فَشَاهَدَتْ فِى طَرِيْقِهَامِنْ غَرِيْبِ الْمُعْجِزَاتْ ۩ مَادَلَّهَا عَلَى اَنَّهُ اَشْرَفُ اْلمَخْلُوْقَاتْ ۩
Dalam perjalanan pulang itu, ia menyaksikan berbagai mu’jizat yang mengherankan dan membuatnya bertambah yakin betapa besar kemuliaan bayi yang bersamanya.
Keledai dan unta tua miliknya yang semula berjalan terseok-seok di belakang kafilah, kini melesat kencang mendahului rombongan. Unta dan kambing-kambingnya yang kering, tiba-tiba memancarkan air susu dengan begitu derasnya, membuat takjub siapa pun yang melihatnya. Semua ini adalah bukti nyata bahwa bayi yang dibawanya bukanlah manusia biasa, melainkan pembawa berkah bagi semesta.
Peristiwa Agung: Pembedahan Dada (Syaqqus Sadr)
Selama dua tahun, Nabi Muhammad SAW tinggal dalam asuhan Halimah dan suaminya, menebarkan keberkahan yang tiada henti. Puncak dari keajaiban masa kecilnya terjadi saat beliau sedang menggembala domba bersama saudara-saudara susuannya. Malaikat-malaikat utusan Allah datang membawa sebuah misi penyucian.
فَاضْجَعُوْهُ عَلَى اْلاَرْضِ اِضْجَاعَ تَشْرِيفْ ۩ وَشَقُّوْابَطْنَهُ شَقًّا لَطِيفْ ۩
Mereka membaringkannya dengan hati-hati, lalu membelah dadanya dengan lemah lembut.
Dari dalam dada beliau, para malaikat mengeluarkan segumpal ‘alaqah (yang sering ditafsirkan sebagai bagian hitam atau “bagian setan”), lalu menyucikannya. Mereka tidak mengambil sesuatu yang kotor, karena hati sang Nabi pada dasarnya suci. Sebaliknya, mereka menambahkan kesucian di atas kesucian yang telah ada.
وَمَااَخْرَجَ الْاَمْلَاكُ مِنْ قَلْبِهِ اَذًى، وَلَكِنَّهُمْ زَادُوْهُ طُهْرًا عَلَى طُهْرِ
Tiada suatu kotoran mengganggu yang dikeluarkan malaikat dari hatinya, tapi mereka hanya menambahkan kesucian di atas kesucian….
Dalam peristiwa agung itu, para malaikat menyimpankan “rahasia ilmu dan hikmah” (اَسْرَارِاْلعِلْمِ وَاْلحِكْمَةِ) ke dalam kalbu beliau. Selama proses itu, sang bocah Muhammad tetap dalam keadaan tegar dan tabah, menyaksikan langsung tanda-tanda kebesaran Tuhannya.
Kembali ke Pangkuan Ibunda
Berita mengenai peristiwa luar biasa ini sampai kepada Halimah. Diliputi rasa khawatir dan cemas sebagai seorang ibu, ia takut akan terjadi sesuatu yang membahayakan anak asuhnya. Ia tidak menyadari sepenuhnya bahwa sang Nabi senantiasa berada dalam penjagaan sempurna dari Tuhannya (مُلَاحَظٌ بِالْمُلَاحَظَةِ التَّامَةِ مِنْ مَوْلَاهُ).
Meskipun berat hati untuk berpisah, didorong oleh rasa tanggung jawab dan kekhawatiran, Halimah akhirnya mengembalikan Nabi Muhammad SAW ke pangkuan ibundanya, Sayyidah Aminah. Padahal, sang Nabi sebenarnya selalu berada “dalam benteng penjagaan yang kokoh kuat, serta kedudukan amat tinggi dan mulia.” Fase kehidupan di Bani Sa’ad pun berakhir, meninggalkan jejak keberkahan abadi dan menjadi penanda awal dari serangkaian penyucian dan persiapan agung untuk misi kenabian di masa depan.








