• Backup Home
  • Home 2
  • Privacy Policy
  • Qasidah dan Shalawat Page
  • Rawi Simthud Duror dan Terjemah
  • Tentang Kami
  • Terms and Conditions
  • Home
Kitab Kuning Digital
No Result
View All Result
Saturday, July 18, 2026
  • Home
  • Kajian Kitab
    • Hikmatut Tasyrif wa Falsafatuhu
    • Tafsir Mimpi Ibnu Sirin
    • Safiinatun Najaah
    • Taklim Muta`allim
  • Qasidah
  • PDF Kitab Kuning
  • Khutbah
  • Manakib
  • Shalat
  • Apps
  • Artikel
  • Tentang Kami
  • Home
  • Kajian Kitab
    • Hikmatut Tasyrif wa Falsafatuhu
    • Tafsir Mimpi Ibnu Sirin
    • Safiinatun Najaah
    • Taklim Muta`allim
  • Qasidah
  • PDF Kitab Kuning
  • Khutbah
  • Manakib
  • Shalat
  • Apps
  • Artikel
  • Tentang Kami
No Result
View All Result
Kitab Kuning Digital
No Result
View All Result
  • PDF
  • Qasidah
  • Doa-doa
  • Kajian Kitab
  • Tuntunan Ibadah
  • Apps
  • Artikel
  • Infografis
  • Khutbah
  • Manakib
  • Tanya Jawab Keislaman
  • Tentang Kami

Guru sebagai Teladan: Panduan Akhlak Mulia dalam Islam

Kitab Kuning Digital by Kitab Kuning Digital
2025-07-26
in Artikel
Reading Time: 5 mins read
A A
0
17
SHARES
86
VIEWS
FacebookTwitterWhatsappTelegramLine

Posisi seorang guru (mu’allim) dalam Islam tidak hanya sebatas penyampai informasi, tetapi juga sebagai teladan hidup. Oleh karena itu, seorang guru dituntut untuk menghiasi dirinya dengan akhlak-akhlak mulia dan sifat-sifat terpuji yang telah digariskan oleh syariat. Karakter seorang guru adalah kurikulum tak tertulis yang akan diserap oleh murid-muridnya.

Berikut adalah panduan akhlak yang seharusnya menjadi cerminan dari pribadi seorang pendidik.

1. Sikap Terhadap Dunia: Zuhud dan Menjaga Kehormatan Diri

Seorang guru hendaknya menunjukkan sikap zuhud, yaitu tidak menjadikan dunia sebagai tujuan utamanya. Ini diwujudkan dengan:

  • Mengurangi kecintaan pada dunia: Tidak terbuai oleh gemerlap materi dan tidak menjadikan ambisi duniawi sebagai prioritas.
  • Tidak terlalu peduli dengan dunia dan para pencintanya: Menjaga jarak dari gaya hidup yang hanya berorientasi pada kemewahan dan kesenangan sesaat.
  • Menjauhi profesi atau cara mencari nafkah yang hina: Menjaga martabat diri dengan memastikan penghasilannya berasal dari sumber yang baik dan terhormat.

2. Membangun Pribadi yang Mulia dan Berwibawa

Karakter seorang guru terpancar dari interaksi dan pembawaan dirinya sehari-hari. Sifat-sifat yang harus dipupuk antara lain:

  • Kedermawanan: Murah hati dan suka memberi, baik dalam bentuk materi maupun ilmu.
  • Wajah yang Ramah: Menunjukkan wajah yang bersahabat dan sopan, namun tanpa berlebihan hingga menghilangkan kewibawaan.
  • Kesabaran dan Kesantunan (Hilm): Mampu menahan amarah dan bersikap tenang dalam menghadapi berbagai situasi.
  • Ketenangan dan Kewibawaan (Sakinah dan Waqar): Memiliki pembawaan yang tenang, tidak tergesa-gesa, dan menunjukkan martabat sebagai orang berilmu.
  • Kerendahan Hati (Tawadhu’): Bersikap rendah hati dan tidak sombong, baik di hadapan Allah maupun sesama manusia.
  • Menghindari Canda Berlebihan: Menjauhi tawa terbahak-bahak dan lelucon yang berlebihan yang dapat mengurangi wibawanya.

3. Menjaga Kebersihan dan Penampilan Lahiriah

Islam adalah agama yang mencintai kebersihan dan keindahan. Seorang guru harus menjadi contoh dalam hal ini, seperti:

  • Menjaga kebersihan diri dari kotoran.
  • Memperhatikan sunnah-sunnah fitrah seperti memangkas kumis dan memotong kuku.
  • Merapikan jenggot bagi yang memilikinya.
  • Menghilangkan bau badan yang tidak sedap.
  • Mengenakan pakaian yang pantas, bersih, dan tidak tercela menurut syariat.

4. Mewaspadai Penyakit Hati yang Merusak

Seorang guru harus senantiasa waspada terhadap penyakit-penyakit batin yang dapat menghancurkan amal dan ilmunya. Ia harus berjuang untuk menjauhi:

  • Hasad (Iri Hati): Perasaan tidak suka terhadap nikmat yang didapat orang lain.
  • Riya’ (Pamer): Melakukan sesuatu karena ingin dilihat atau dipuji oleh manusia.
  • ‘Ujb (Bangga Diri): Mengagumi diri sendiri dan merasa hebat atas ilmu atau amal yang dimiliki.
  • Merendahkan Orang Lain: Memandang hina orang lain, bahkan jika orang tersebut berada di bawahnya dari segi status atau ilmu.

5. Fondasi Spiritual Seorang Guru

Seluruh akhlak mulia ini harus berdiri di atas fondasi spiritual yang kokoh. Fondasi ini dibangun dengan:

  • Memperbanyak Dzikir: Mengamalkan zikir-zikir seperti tasbih (Subhanallah), tahlil (La ilaha illallah), dan doa-doa yang diajarkan dalam hadis.
  • Muraqabah (Merasa Diawasi Allah): Selalu sadar bahwa Allah SWT mengawasinya dalam setiap keadaan, baik saat sendiri maupun di tengah keramaian.
  • Tawakkal (Berserah Diri): Menjadikan Allah sebagai satu-satunya sandaran dalam segala urusan.

Dengan menghidupkan akhlak-akhlak ini, seorang guru tidak hanya berhasil mentransfer ilmu, tetapi juga menanamkan karakter, menginspirasi jiwa, dan mencetak generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual tetapi juga luhur secara moral.

Pasal 4: Guru harus Menunjukkan Akhlaq yang Dicontohkan dalam Islam

Pasal ke-4:

وَيَنْبَغِي لِلْمُعَلِّمِ أَنْ يَتَخَلَّقَ بِالْمَحَاسِنِ الَّتِي وَرَدَ الشَّرْعِ بِهَا وَالْخِلاَلِ الْحَمِيْدَةِ وَالشِّيَمِ الْمَرْضِيَّةِ الَّتِي أَرْشَد إِلَيْهَا مِنَ الزَّهَادَةِ فِي الدُّنْيَاوَالتَّقَلُّلِ مِنْهَا

“Sebagai seorang guru, seharusnya menunjukkan kebajikan yang dicontohkan dalam ajaran Islam, seperti sifat terpuji dan perilaku baik yang dikehendaki oleh Allah, termasuk menjauhi kecenderungan untuk terlalu mencintai dunia dan menguranginya.”

وَعَدَمِ الْمُبَالَاةِ بِهَا وَبِأَهْلِهَا وَالسَّخَاءِ وَالْجُوْدِ وَمَكَارَمِ الْأَخْلاَقِ وَطَلَاقَةِ الْوَجْهِ مِنْ غَيْرِ خُرُوْجِ إِلَى حَدِّ الْخَلَاعَةِ

“Sebagai seorang guru, juga harus menunjukkan sifat murah hati dan kemurahan hati, serta perilaku terpuji lainnya, seperti kesopanan dan kebaikan, tanpa melewati batas-batas yang diizinkan dalam agama, serta mempertahankan martabat diri dengan cara yang layak.”

وَالْحِلْمِ وَالصَّبْرِ وَالتَّنَزُّهِ عَنْ دَنِيِّء الْمَكَاسِبِ وَمُلَازَمَةِ الْوَرَعِ وَالْخُشُوْعِ وَالسَّكِيْنَةِ وَالْوَقَارِ وَالتَّوَاضُعِ وَالْخُضُوْعِ وَاجْتِنَابِ الضَّحِكَ وَالْإِكْثَارِ مِنَ الْمَزْاحِ وَمُلَازَمَةِ الْوَظَائِفِ الشَّرْعِيَّةِ

“Sebagai seorang guru, juga harus menunjukkan sifat kesabaran dan kesantunan, serta menjauhi ambisi yang hina dan memegang teguh nilai-nilai kesucian, kekhidmatan, ketenangan, keagungan, kerendahan hati, dan ketaatan, serta menghindari tawa dan lelucon yang berlebihan dan memegang teguh tugas-tugas keagamaan.”

كَالتَّنَظِّيْفِ وَتَقْلِيْمِ بِإِزاَلةِ الْأَوْسَاخِ وَالشُّعُوْرِ الَّتِي وَرَدَ الشَّرْعِ بِإِزَالَتِهَا كَقَصِّ الشَّارَبِ وَتَقْلِيْمِ الْلأَظْفَارِ وَتَسْرِيْحِ اللَّحْيَةِ وَإِزَالَةِ الرَّوَائِحِ الْكَرِيْهَةِ وَالْمَلَابِسِ الْمَكْرُوْهَةِ

“Seperti membersihkan diri dan memangkas rambut atau bulu-bulu yang diwajibkan dalam syariat seperti memangkas kumis, memotong kuku, merapikan jenggot, menghilangkan bau tidak sedap dan memakai pakaian yang tidak tercela.”

وَلْيَحْذَرْ كُلَّ الْحَذَرِ مِنَ الْحَسَدِ وَالرِّيَاءِ وَالْعُجْبِ وَاحْتِقَارِ غَيْرِهِ وَإِنْ كَاَن دُوْنَهُ وَيَنْبَغِي أَنْ يَسْتَعْمِلَ اْلأَحَادِيْثِ الْوَارِدَةِ فِي التَسْبِيْحِ وَالتَّهْلِيْلِ وَنَحْوِهِمَا مِنَ الْأَذْكَارِ وَالدَّعَوَاتِ وَأَنْ يُرَاقِبُ اللهَ تَعَالىٰ فِي سِرِّهِ وَعَلَانِيَتِهِ وَيُحَافِظَ عَلىٰ ذَلِكَ وَأَنْ يَكُوْنَ تَعْوِيْلُهُ فِي جَمِيْعِ أُمُوْرِهِ عَلىٰ اللهِ تَعَالىٰ

“Guru harus sangat berhati-hati terhadap sifat iri dan riya, kesombongan, merendahkan orang lain bahkan jika mereka di bawahnya. Guru harus menggunakan hadits-hadits yang berisi dzikir, doa, tasbih, dan sejenisnya, dan harus selalu menyadari bahwa Allah selalu mengawasinya baik di waktu terang maupun gelap. Guru harus tetap memegang prinsip bahwa selalu bertawakkal kepada Allah dalam segala hal yang dilakukannya.”

Related

Share7Tweet4SendShareShare
Previous Post

Penyakit Hati Para Pendidik: Saat Murid Menjadi Ajang Kebanggaan

Next Post

Menyambut Penuntut Ilmu: Wasiat Nabi untuk Memuliakan Para Pelajar

Kitab Kuning Digital

Kitab Kuning Digital

Penggiat Transformasi Digital keIslaman untuk mendukung Digitalisasi Kitab Kuning untuk pembelajaran masyarakat awam.

Artikel Terkait

Boleh Nggak Sih Makan Kepiting? Ini Penjelasan Lengkapnya Menurut Islam
Artikel

Boleh Nggak Sih Makan Kepiting? Ini Penjelasan Lengkapnya Menurut Islam

by Kitab Kuning Digital
2025-04-20
0

Penjelasan Hukum Makan Kepiting Kepiting itu enak banget, ya! Nggak cuma lezat, tapi juga kaya nutrisi. Kandungan proteinnya tinggi dan...

Read moreDetails
Biografi Imam Nawawi (Muhyiddin Abu Zakaria Yahya bin Syaraf) – Kitab Al-Adzar

Biografi Imam Nawawi (Muhyiddin Abu Zakaria Yahya bin Syaraf) – Kitab Al-Adzar

2025-06-08
Setelah Puasa Asyura, Apa Amalan Selanjutnya?

Setelah Puasa Asyura, Apa Amalan Selanjutnya?

2025-07-14
Kitab Nihayatul Mathlab Fii Diroyatil Madzhab – نهاية المطلب في دراية المذهب

Kitab Nihayatul Mathlab Fii Diroyatil Madzhab – نهاية المطلب في دراية المذهب

2023-09-18
Next Post
Menyambut Penuntut Ilmu: Wasiat Nabi untuk Memuliakan Para Pelajar

Menyambut Penuntut Ilmu: Wasiat Nabi untuk Memuliakan Para Pelajar

يارب صل على المختار طه البشير – Yaa Robbi Sholli `Alal Mukhtaar Thoha al-Basyir

يارب صل على المختار طه البشير - Yaa Robbi Sholli `Alal Mukhtaar Thoha al-Basyir

5 Peristiwa Penting dalam Sejarah Islam yang Terjadi di Bulan Safar

5 Peristiwa Penting dalam Sejarah Islam yang Terjadi di Bulan Safar

Mengajarkan Anak tentang Tawakal Sejak Dini: Pelajaran dari Bulan Safar

Mengajarkan Anak tentang Tawakal Sejak Dini: Pelajaran dari Bulan Safar

Please login to join discussion

© 2025 DH Tech - Daarul Hijrah Tech Kitab Kuning Digital.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • PDF
  • Qasidah
  • Doa-doa
  • Kajian Kitab
  • Tuntunan Ibadah
  • Apps
  • Artikel
  • Infografis
  • Khutbah
  • Manakib
  • Tanya Jawab Keislaman
  • Tentang Kami

© 2025 DH Tech - Daarul Hijrah Tech Kitab Kuning Digital.