Bulan Safar, bulan kedua dalam kalender Hijriah, seringkali diselimuti oleh mitos dan kepercayaan yang tidak berdasar. Sebagian masyarakat di masa lalu, bahkan hingga kini, masih ada yang menganggapnya sebagai bulan penuh kesialan atau bencana. Anggapan ini merupakan sisa-sisa kepercayaan dari zaman Jahiliyah yang secara tegas telah diluruskan oleh Rasulullah SAW.
Dalam sebuah hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW bersabda:
لاَ عَدْوَى وَلاَ طِيَرَةَ وَلاَ هَامَةَ وَلاَ صَفَرَ
Artinya: “Tidak ada ‘adwa (penyakit menular tanpa izin Allah), tidak ada thiyarah (merasa sial karena sesuatu), tidak ada hamah (keyakinan bahwa roh orang mati menjadi burung), dan tidak ada Shafar (anggapan sial pada bulan Safar).”
Hadits ini menjadi bukti nyata bahwa Islam menolak segala bentuk takhayul. Justru sebaliknya, lembaran sejarah Islam yang terekam dalam kitab-kitab terpercaya para ulama menunjukkan bahwa bulan Safar adalah panggung bagi banyak peristiwa besar dan strategis. Berikut adalah lima di antaranya:
1. Pernikahan Agung Rasulullah SAW dengan Siti Khadijah RA
Jauh sebelum kenabian, bulan Safar menjadi saksi ikatan suci antara Muhammad bin Abdullah (yang kelak menjadi Rasulullah) dengan seorang wanita mulia, Khadijah binti Khuwailid. Sebagaimana dicatat oleh para ahli sejarah (Ahl as-Siyar), pernikahan yang penuh berkah ini terjadi di bulan Safar.
Peristiwa ini menjadi bantahan telak terhadap anggapan sial pada bulan Safar. Bagaimana mungkin bulan ini dianggap sial, sementara di dalamnya terjadi pernikahan paling agung dalam sejarah, yang melahirkan keturunan suci dan menjadi penopang utama dakwah Rasulullah SAW di masa-masa awal yang penuh kesulitan.
2. Permulaan Hijrah Rasulullah SAW dari Mekkah
Peristiwa hijrah adalah tonggak utama yang mengubah wajah dakwah Islam. Menurut kitab-kitab sirah yang muktabar, seperti Ar-Raheeq Al-Makhtum (The Sealed Nectar) karya Syaikh Safiurrahman al-Mubarakpuri, rencana dan permulaan hijrah Nabi Muhammad SAW dari rumahnya di Mekkah terjadi pada akhir bulan Safar, tepatnya pada malam tanggal 27 Safar.
Pada malam itu, rumah beliau dikepung oleh para pemuka Quraisy yang berniat membunuhnya. Namun dengan izin Allah, Rasulullah SAW berhasil keluar dari rumahnya dengan selamat dan memulai perjalanannya menuju Gua Tsur, sebelum akhirnya melanjutkan perjalanan ke Madinah pada awal bulan Rabi’ul Awal. Aksi krusial meninggalkan rumah di tengah kepungan musuh ini terjadi di bulan Safar.
3. Perang Al-Abwa’ (Waddan), Ghazwah Pertama Rasulullah SAW
Setelah hijrah ke Madinah dan mendirikan negara Islam, Rasulullah SAW memimpin sendiri ekspedisi militer (ghazwah) untuk pertama kalinya. Para ahli sejarah seperti Ibnu Ishaq dan Ibnu Hisyam mencatat bahwa Ghazwah Al-Abwa’ atau yang juga dikenal sebagai Waddan, terjadi pada bulan Safar tahun ke-2 Hijriah.
Meskipun dalam ekspedisi ini tidak terjadi pertempuran, Rasulullah SAW berhasil membuat perjanjian damai dengan kabilah Bani Dhamrah. Peristiwa ini menunjukkan dimulainya era kedaulatan dan kekuatan politik umat Islam di Madinah, dan itu terjadi di bulan Safar.
4. Penaklukan Benteng Khaibar (Fathu Khaibar)
Khaibar adalah sebuah daerah subur yang dihuni oleh komunitas Yahudi yang sering memprovokasi dan mengkhianati perjanjian dengan umat Islam di Madinah. Pada akhir bulan Muharram dan selesai pada bulan Safar tahun ke-7 Hijriah, Rasulullah SAW memimpin pasukan untuk menaklukkan benteng-benteng Khaibar yang terkenal kuat.
Kemenangan gemilang di Khaibar ini merupakan salah satu kemenangan militer terbesar umat Islam pada masa itu. Peristiwa ini, sebagaimana dicatat dalam Al-Bidayah wan Nihayah oleh Ibnu Kathir, menandai stabilitas keamanan Madinah dari ancaman konspirasi, dan kemenangan besar ini diraih di bulan Safar.
5. Pengutusan Usamah bin Zaid sebagai Panglima Pasukan
Salah satu keputusan terakhir Rasulullah SAW sebelum wafat adalah mempersiapkan dan menunjuk seorang panglima untuk memimpin pasukan menghadapi Kekaisaran Romawi (Bizantium) di perbatasan Syam. Beliau menunjuk Usamah bin Zaid, seorang pemuda yang saat itu baru berusia sekitar 18 tahun, sebagai komandan pasukan yang di dalamnya terdapat para sahabat senior seperti Abu Bakar dan Umar bin Khattab.
Para ahli sejarah yang valid mencatat bahwa penunjukan dan persiapan pasukan ini terjadi pada hari-hari terakhir bulan Safar tahun ke-11 Hijriah, sesaat sebelum Rasulullah SAW jatuh sakit yang berujung pada wafatnya beliau di bulan Rabi’ul Awal. Peristiwa ini menunjukkan visi besar Rasulullah SAW, kepercayaan beliau kepada generasi muda, dan semangat jihad yang terus menyala hingga akhir hayatnya.
Kesimpulan
Sejarah Islam yang shahih dan valid membuktikan bahwa bulan Safar bukanlah bulan kesialan. Ia adalah bulan yang diisi dengan peristiwa-peristiwa monumental: dari ikatan cinta yang suci, langkah awal hijrah yang menentukan, strategi militer pertama, kemenangan besar, hingga demonstrasi kepercayaan pada pemuda.
Oleh karena itu, sikap seorang Muslim adalah meyakini bahwa setiap waktu adalah ciptaan Allah. Baik dan buruk datangnya dari takdir Allah, bukan karena pengaruh hari atau bulan. Mari kita isi bulan Safar ini, dan bulan-bulan lainnya, dengan optimisme, tawakal, serta amal kebaikan, seraya mengambil pelajaran dari sejarah gemilang para pendahulu kita.








