Malam ini (Selasa, 19 Agustus 2025) dan besok (Rabu, 20 Agustus 2025) adalah momen yang oleh sebagian saudara kita dikenal sebagai Rebo Wekasan. Biasanya, momen ini diisi dengan berbagai amalan, seperti shalat khusus atau doa dan dzikir bersama dengan harapan agar dijauhkan dari marabahaya.
Niatnya tentu sangat baik, yaitu memohon perlindungan kepada Allah. Tapi, muncul pertanyaan penting: bagaimana sebetulnya Islam memandang amalan-amalan yang dikhususkan pada hari ini? Apakah ini dianjurkan, atau justru kita perlu lebih berhati-hati?
Nah, Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI), melalui Sekretarisnya, Kiai Miftahul Huda, memberikan catatan penting yang bisa jadi pencerahan buat kita semua.
Aturan Main dalam Ibadah Itu Ibarat “Menu dari Chef”
Pertama, kita perlu paham konsep dasar ibadah dalam Islam, terutama yang sifatnya murni (mahdhah) seperti shalat. Kiai Miftah menjelaskan bahwa ibadah jenis ini bersifat tauqifiyah.
Apa itu tauqifiyah? Sederhananya, bayangkan ibadah itu seperti menu spesial yang resep dan cara penyajiannya sudah ditentukan langsung oleh “Chef Agung”, yaitu Allah SWT melalui Rasulullah. Kita tidak bisa seenaknya menambah-nambah bahan, mengurangi bumbu, atau mengubah waktu penyajiannya. Semuanya harus sesuai resep asli yang ada di Al-Qur’an dan Sunnah.
Contoh “menu” yang sudah jelas resepnya adalah shalat Dhuha di pagi hari, shalat gerhana saat ada gerhana, atau shalat witir sebagai penutup malam. Aturan mainnya sudah baku dan jelas.
“Kartu AS” Bernama Shalat Sunnah Mutlak
Namun, Islam juga memberikan kita “ruang gerak” yang fleksibel. Ada yang namanya shalat sunnah mutlak. Ini ibarat “kartu AS” atau amalan freestyle. Kita bisa mengerjakannya kapan pun kita mau (di luar waktu terlarang shalat), tanpa harus ada sebab atau waktu khusus. Misalnya, di tengah malam Anda tiba-tiba ingin shalat dua rakaat untuk mendekatkan diri pada Allah, itu sah-sah saja.
Nah, di sinilah diskusi menjadi menarik. Kiai Miftah mengangkat pertanyaan: “Bagaimana kalau kita menggunakan ‘kartu AS’ shalat sunnah mutlak ini tepat di momen Rebo Wekasan?”
Di sinilah para ulama mulai memberikan pandangan yang beragam.
Akar Masalahnya: Kenapa Waktu Jadi Penting?
Inti dari perbedaan pendapat para ulama sebenarnya bukan pada shalatnya, tapi pada pengkhususan waktunya.
Begini penjelasannya:
- Jika Anda shalat sunnah mutlak di malam Rabu terakhir bulan Safar karena kebetulan Anda sedang ingin shalat, tanpa ada keyakinan apa pun tentang keistimewaan malam itu, maka pada dasarnya tidak ada masalah. Itu sama seperti Anda shalat di malam-malam lainnya.
- Namun, jika Anda sengaja shalat karena ini adalah malam Rebo Wekasan, dengan keyakinan bahwa shalat di waktu ini punya fadhilah atau kekuatan khusus untuk menolak bala, nah di sinilah letak titik kritisnya.
Mengapa jadi kritis? Karena dengan meyakini adanya keutamaan khusus pada waktu tersebut, secara tidak langsung kita seolah-olah “menetapkan” sebuah jadwal ibadah baru yang tidak ada dalam “resep” asli dari Al-Qur’an dan Sunnah. Untuk mengklaim suatu waktu itu istimewa, kita butuh dalil atau bukti otentik. Tanpa bukti itu, dikhawatirkan kita terjatuh pada perbuatan mengada-ada dalam agama.
Lalu, Bagaimana dengan Doa dan Dzikir?
Logika yang sama juga berlaku untuk doa dan dzikir. Kiai Miftah menegaskan bahwa berdoa dan berdzikir untuk memohon perlindungan adalah amalan yang sangat mulia dan dianjurkan kapan saja. Mau pagi, siang, malam, di bulan apa pun, pintu doa selalu terbuka lebar.
Masalahnya muncul kalau doa dan dzikir ini “dikemas” secara khusus dengan label “Edisi Spesial Rebo Wekasan”—dengan susunan tertentu, jumlah hitungan tertentu, dan di waktu tertentu—lalu diyakini bahwa “paket” inilah yang paling manjur.
Pengkhususan seperti ini bisa menimbulkan keyakinan yang keliru di masyarakat, seolah-olah ada syariat khusus dari Allah dan Rasul-Nya untuk momen Rebo Wekasan, padahal sebenarnya tidak ada.
Kesimpulannya?
Jadi, intinya begini:
- Niat dan Substansi: Niat untuk mendekatkan diri kepada Allah, shalat, berdoa, dan berdzikir minta perlindungan adalah perbuatan yang sangat baik.
- Keyakinan dan Pengkhususan: Yang perlu kita waspadai adalah keyakinan bahwa ada keistimewaan atau ritual khusus yang terikat pada hari Rebo Wekasan itu sendiri, karena hal ini tidak memiliki landasan dalil yang kuat.
Perlindungan terbaik dari segala musibah adalah dengan menjaga ibadah kita setiap hari, berbuat baik kepada sesama, dan bertawakal kepada Allah. Pintu pertolongan-Nya terbuka 24/7, tidak hanya di hari atau malam tertentu saja.








