Ilmu dalam Islam menempati kedudukan yang sangat mulia. Ia adalah cahaya yang menerangi jalan menuju kebenaran dan panduan untuk meraih keridhaan Allah SWT. Namun, kemuliaan ini sangat bergantung pada satu hal yang fundamental: niat. Sebuah peringatan keras ditekankan bahwa ilmu tidak semestinya dijadikan alat untuk mencapai tujuan-tujuan duniawi yang fana.
Larangan Menggunakan Ilmu untuk Kepentingan Duniawi
Seorang penuntut ilmu atau orang yang berilmu hendaknya menjaga hatinya agar tidak memiliki tujuan untuk meraih kesenangan dunia melalui pengetahuan yang dimilikinya. Godaan ini bisa datang dalam berbagai bentuk, di antaranya:
- Harta dan Kekayaan: Memanfaatkan ilmu untuk menumpuk pundi-pundi materi.
- Jabatan dan Ketenaran: Menjadikan ilmu sebagai tangga untuk mencapai posisi atau popularitas di tengah masyarakat.
- Keunggulan atas Sesama: Belajar dengan tujuan untuk merasa lebih hebat atau lebih tinggi dari rekan-rekannya.
- Pujian dan Perhatian: Haus akan sanjungan dari orang lain atau berambisi menjadi pusat perhatian.
Niat-niat seperti ini dapat merusak esensi dari ilmu itu sendiri, mengubahnya dari ibadah menjadi sekadar transaksi duniawi.
Peringatan Khusus bagi Para Pendidik
Peringatan ini juga berlaku secara spesifik bagi para guru dan pendidik. Seorang pengajar tidak sepantasnya menodai proses mengajarnya dengan mengharapkan imbalan materi atau jasa dari murid-muridnya. Bahkan jika pemberian itu berbentuk hadiah yang tampak tulus, jika hadiah tersebut tidak akan diberikan seandainya ia tidak mengajar, maka hal itu dapat mengotori niat ikhlasnya. Keikhlasan seorang guru adalah kunci keberkahan ilmu yang disampaikannya.
Ancaman Tegas dalam Al-Qur’an dan Hadis
Allah SWT telah memberikan peringatan yang sangat jelas di dalam Al-Qur’an. Dalam Surat Asy-Syuura ayat 20, ditegaskan bahwa siapa pun yang hanya menginginkan keuntungan dunia, maka akan diberikan sebagian darinya, namun ia tidak akan mendapatkan bagian apa pun di akhirat kelak. Hal ini senada dengan firman-Nya dalam Surat Al-Isra’ ayat 18, yang menyatakan bahwa bagi mereka yang menghendaki kehidupan duniawi, Allah akan menyegerakan apa yang Dia kehendaki bagi orang yang Dia kehendaki.
Ancaman ini dipertegas oleh Rasulullah SAW dalam beberapa hadis. Diriwayatkan dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda bahwa barangsiapa yang mempelajari suatu ilmu yang seharusnya ditujukan untuk mencari ridha Allah, namun ia mempelajarinya hanya untuk mendapatkan keuntungan dunia, maka ia tidak akan mencium bau surga pada hari kiamat. Ini adalah sebuah ancaman yang sangat serius yang menunjukkan betapa besarnya dosa dari niat yang salah dalam menuntut ilmu.
Dalam riwayat lain dari Anas, Hudzaifah, dan Ka’ab bin Malik, Rasulullah SAW bersabda bahwa siapa pun yang menuntut ilmu dengan tujuan untuk:
- Berdebat dengan orang-orang bodoh,
- Membanggakan diri di hadapan para ulama, atau
- Memalingkan perhatian manusia kepadanya,
maka tempatnya adalah di neraka.
Kesimpulan
Pada hakikatnya, ilmu adalah sebuah amanah yang agung. Tujuannya adalah untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta, memahami kebesaran-Nya, dan menjadi bekal untuk kehidupan akhirat. Ketika ilmu disalahgunakan sebagai alat untuk meraih harta, tahta, pujian, atau popularitas, ia kehilangan nilainya yang sejati. Oleh karena itu, menjadi kewajiban bagi setiap penuntut dan pemilik ilmu untuk senantiasa memeriksa hatinya, meluruskan niatnya, dan memastikan bahwa satu-satunya tujuan dalam berilmu adalah untuk mencari wajah Allah SWT semata.
Rujukan Kitab At-Tibyan
Pasal 2: Hendaknya Seseorang tidak Memiliki Tujuan Dunia dengan Ilmu yang Dimilikinya
Pasal ke-2:
وَيَنْبَغِي أَنْ لَا يَقْصِدَ بِهِ تَوَصُّلًا إِلَى عَرَضٍ مِنْ أَعْرَاضِ الدُّنْيَا مِنْ مَالٍ أَوْ رِئَاسَةٍ أَوْ وَجَاهَةٍ أَوِ ارْتِفَاعٍ عَلىٰ أَقْرَانِهِ أَوْ ثَنآءٍ عِنْدَ النَّاسِ أَوْ صَرْفِ وُجُوْهِ النَّاسِ إِلَيْهِ أَوْ نَحْوِ ذَلِكَ
Hendaknya seseorang tidak memiliki tujuan dengan ilmu yang dimilikinya untuk mencapai kesenangan dunia berupa harta atau ketenaran. Kedudukan, keunggulan atas orang-orang lain, pujian dari orang banyak atauingin mendapatkan perhatian orang banyak dan hal-hal seperti itu.
وَلَا يَشِيْنُ الْمُقْرِئَ إِقْرَاءَهُ بِطَمَعٍ فِي رِفْقٍ يَحْصُلُ لَهُ مِنْ بَعْضِ مَنْ يَقْرَأُ عَلَيْهِ سَوَاءٌ كَانَ الرِّفْقُ مَالًا أَوْ خِدْمَةُ وَإِنْ قَلَّ وَلَوْ كَانَ عَلىٰ صُوْرَةِ الْهَدِيَّةِ الَّتِي لَوْلَا قِرَاءَتُهُ عَلَيْهِ لَمَا أَهْدَاهَا إِلَيْهِ
Hendaklah guru tidak mengharapkan dengan pengajarannya itu sesuatu yang dperlukan dari murid-muridnya, baik itu berupa pemberian harta atau pelayanan, meskipun sedikit dan sekalipun berupa hadiah yang seandainya dia tidak mengajarinya membaca Al-Qur’an, tentulah dia tidak diberi hadiah.
Allah berfirman:
مَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الْآخِرَةِ نَزِدْ لَهُ فِي حَرْثِهِ ۖ وَمَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الدُّنْيَا نُؤْتِهِ مِنْهَا وَمَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِنْ نَصِيبٍ ﴿ ٢٠﴾
“Barangsiapa yang menghendaki keuntungan di dunia, Kami berikan kepadanya sebagian daripada keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bagianpun di akhirat.”
(QS Asy-Syuura 42:20)
Allah berfirman:
مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْعَاجِلَةَ عَجَّلْنَا لَهُ فِيهَا مَا نَشَاءُ لِمَنْ نُرِيدُ ﴿ ١٨﴾
“Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang Kami kehendaki bagi orang yang Kami kehendaki.”
(QS Al-Israa’ 17:18)
Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا يُبْتَغَي بِهِ وَجْهُ اللهِ تَعَالىٰ لَا يَتَعَلَّمُهُ إِلَّا لِيُصِيْبَ بِهِعَرَضًا مِنْ أَعْرَاضِ الدُّنْيَا لَمْ يَجْدِ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Barangsiapa yang keridhaan Allah Subhanahu wa ta’ala dari ilmu yang dipunyainya, sedangkan dia tidak mempelajarinya kecuali untuk mendapat kesenangan dunia, maka diapun tidak mencium bau surga pada hari kiamat. Kata Suraij, maksud hadits ini ialah bau Surga.”
(Riwayat Abu Dawud dengan isnad Shahih)
Dan masih banyak lagi hadits-hadits seperti itu.
Diriwayatkan dari Anas, Hudzaifah dan Ka’ab bin MalikRadhiyallahu‘anhubahwaRasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
مَنْ طَلَبَ الْعِلْمِ لِيُمَارِيَ بِهِ السُّفَهَاءَ أَوْ يُكَاثِرَ بِهِ الْعُلَمَاءَ أَوْ يَصْرِفَ بِهِ وُجُوْهَ النَّاسَ إِلَيْهِ فَلْيَتَبَوَّأُ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ
“Barangsiapa menuntut ilmu sekedar untuk mencari kemenangan berdebat dengan orang-orang yang lemah (bodoh) atau membanggakan diri kepada para ulama atau memalingkan perhatian orang-orang kepadanya, maka biarlah dia mendapatkan tempat yang celaka di neraka.”Abu Isa berkata: Hadits ini adalah hadits Gharib.








