Dalam proses belajar mengajar, hubungan antara guru dan murid memegang peranan sentral. Islam tidak hanya mengatur materi apa yang diajarkan, tetapi juga bagaimana seorang guru seharusnya bersikap. Salah satu adab terpenting bagi seorang pendidik adalah menunjukkan kelembutan dan kebaikan hati kepada mereka yang datang untuk menimba ilmu.
Prinsip Utama: Lemah Lembut dan Berbuat Baik
Sudah menjadi kewajiban bagi seorang guru untuk bersikap lemah lembut kepada murid-muridnya. Ia hendaknya menyambut kedatangan mereka dengan hangat dan tulus, serta senantiasa berusaha berbuat baik kepada mereka sesuai dengan kondisi yang ada. Sikap baik ini bukan sekadar basa-basi, melainkan sebuah cerminan dari keluhuran budi pekerti yang harus dimiliki oleh seorang pewaris ilmu para nabi.
Perlakuan yang baik ini harus disesuaikan dengan keadaan, yang menunjukkan bahwa seorang guru perlu memiliki empati dan kepekaan. Ia memahami latar belakang muridnya, menghargai usaha mereka, dan menciptakan lingkungan belajar yang nyaman dan mendukung, bukan yang mengintimidasi.
Sebuah Wasiat Agung dari Rasulullah SAW
Sikap memuliakan penuntut ilmu ini bukanlah sekadar anjuran biasa, melainkan sebuah wasiat langsung dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Hal ini tergambar dengan indah dalam sebuah riwayat dari Abu Said Al-Khudri Radhiyallahu ‘anhu.
Diceritakan bahwa ketika para penuntut ilmu mendatanginya, Abu Said Al-Khudri menyambut mereka dengan ucapan, “Selamat datang dengan wasiat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.”
Ucapan selamat datang yang luar biasa ini didasarkan pada sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam yang ia dengar langsung:
“Sesungguhnya, orang-orang akan mengikuti kamu, dan akan ada orang-orang yang datang kepadamu dari berbagai penjuru bumi untuk belajar dan mendalami ilmu agama. Jika mereka datang kepadamu, maka berwasiatlah kamu kepada mereka dengan baik (perlakukanlah mereka dengan sebaik-baiknya).”
Riwayat ini, yang juga dikuatkan melalui jalur Abu Darda’ Radhiyallahu ‘anhu, memberikan beberapa pelajaran penting:
- Sebuah Nubuat: Rasulullah telah memberitakan bahwa estafet dakwah dan ilmu akan terus berlanjut, dan para pelajar akan datang dari tempat yang jauh sekalipun untuk belajar.
- Sebuah Wasiat: Kepada para sahabatnya dan para ulama setelah mereka, Rasulullah memberikan amanah atau wasiat untuk menyambut para pencari ilmu ini dengan perlakuan terbaik.
Kesimpulan
Menjadi seorang guru berarti mengemban amanah agung, termasuk di dalamnya adalah amanah untuk bersikap lemah lembut dan memuliakan para murid. Mereka bukanlah bawahan, melainkan tamu-tamu istimewa yang kedatangannya telah diisyaratkan oleh Rasulullah. Dengan menyambut mereka secara hangat dan memperlakukan mereka dengan baik, seorang guru tidak hanya mempermudah transfer ilmu, tetapi juga sedang menjalankan salah satu wasiat terindah dari Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam.
Pasal 5: Bersikap Lemah Lembut kepada Orang yang Belajar
Pasal ke-5:
وَيَنْبَغِي لَهُ أَنْ يَرْفُقَ بِمَنْ يَقْرَأُ عَلَيْهِ وَأَنْ يُرَحِّبَ بِهِ وَيُحْسِنَ إِلَيْهِ بِحَسَبِ حَالِهِمَا
“Seorang guru sudah sepatutnya bersikap lemah-lembut kepada orang yang belajar kepadanya dan menyambutnya serta berbuat baik kepadanya sesuai dengan keadaannya.”
Kami telah meriwayatkan dari Abu Harun Al-Abdi, berkata: “Kami mendatangi Abu Said Al-Khudri Radhiyallahu ‘anhu kemudian berkata: “Selamat datang dengan wasiat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
إِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: قاَلَ إِنَّ النَّاسَ لَكُمْ تَبَعٌ وَإِنَّ رِجَالًا يَأْتُوْنَكُمْ مِنْ أَقْطَارِ الْأَرْضِ يَتَفَقَّهُوْنَ فِي الدِّيْنِ فَإِذَا أَتَوْكُمْ فَاسْتَوَصُوْا بِهِمْ خَيْرًا
“Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Orang-orang akan mengikuti kamu dan ada orang-orang yang datang kepada kamu dari berbagai penjuru bumi belajar ilmu agama. Jika mereka datang kepadamu, berwasiatlah kamu kepada mereka dengan baik.”
(Riwayat Tirmidzi dan Ibnu Majah dan lainnya)
Telah kami terima riwayat seperti itu dalam Musnad Ad-Daarimi dari
Abu Darda’ Radhiyallahu ‘anhu








