Sebagai orang tua, kita pasti ingin anak-anak tumbuh jadi pribadi yang tangguh, optimis, dan selalu percaya bahwa segala sesuatu akan baik-baik saja di bawah lindungan Allah SWT. Salah satu kunci untuk membentuk karakter seperti itu adalah dengan mengajarkan konsep tawakal sejak dini. Dan tahukah Anda, bulan Safar yang seringkali disalahpahami ini, justru menyimpan pelajaran berharga tentang tawakal yang bisa kita sampaikan pada si kecil.
Bulan Safar sering dikaitkan dengan mitos kesialan atau musibah. Padahal, dalam ajaran Islam, tidak ada bulan yang membawa sial. Semua waktu adalah ciptaan Allah SWT dan setiap waktu memiliki kebaikan. Inilah poin pertama yang bisa kita sampaikan pada anak: tidak ada kekuatan selain Allah yang bisa mendatangkan kebaikan atau keburukan.
Kenapa Tawakal Itu Penting untuk Anak?
Tawakal itu ibarat tameng bagi hati. Dengan bertawakal, anak belajar untuk:
- Tidak Mudah Panik atau Cemas: Ketika menghadapi hal yang tidak menyenangkan, mereka tahu ada Allah yang akan menolong.
- Lebih Berani Mencoba: Rasa takut gagal berkurang karena mereka percaya hasil akhirnya di tangan Allah.
- Menerima Kenyataan dengan Ikhlas: Jika sesuatu tidak berjalan sesuai harapan, mereka lebih mudah menerima karena tahu itu adalah takdir terbaik dari Allah.
- Menjadi Pribadi yang Syukur: Mereka akan lebih menghargai setiap nikmat dan pertolongan yang datang, karena itu semua dari Allah.
Belajar Tawakal dari Kisah Bulan Safar
Bagaimana cara menjelaskan tawakal ini pada anak, khususnya dengan mengambil hikmah dari bulan Safar?
- Luruskan Pemahaman tentang Bulan Safar: Jelaskan pada anak bahwa bulan Safar itu sama dengan bulan-bulan lainnya. Tidak ada hari atau bulan yang membawa kesialan. Semua itu adalah takdir Allah. Sampaikan bahwa Rasulullah ﷺ menolak anggapan sial ini. Hal ini termaktub dalam hadits riwayat Bukhari dan Muslim:”لاَ عَدْوَى وَلاَ طِيَرَةَ وَلاَ هَامَةَ وَلاَ صَفَرَ”Artinya: “Tidak ada penularan penyakit (dengan sendirinya), tidak ada kesialan pada sesuatu, tidak ada kesialan karena burung hantu, dan tidak ada kesialan di bulan Safar.”Dari sini, anak belajar bahwa prasangka buruk (khususnya terhadap waktu) itu dilarang dalam Islam. Kita harus selalu berprasangka baik pada Allah (husnuzan).
- Fokus pada Usaha dan Doa: Ajak anak untuk memahami bahwa meskipun kita bertawakal, bukan berarti kita diam saja. Justru, tawakal itu harus diikuti dengan usaha maksimal (ikhtiar) dan doa.Contohnya:
- Saat anak mau ujian, ajari ia untuk belajar sungguh-sungguh (ikhtiar), lalu berdoa kepada Allah agar diberi kemudahan dan hasil terbaik. Setelah itu, serahkan hasilnya kepada Allah (tawakal).
- Jika ada teman yang sakit, ajari anak untuk menjenguk atau mendoakan (ikhtiar dan doa), kemudian bertawakal kepada Allah atas kesembuhan temannya.
- Ajarkan Kalimat-Kalimat Tawakal: Biasakan anak mengucapkan kalimat-kalimat yang menumbuhkan rasa tawakal, misalnya:
- “Bismillah tawakkaltu ‘alallah, laa hawla wa laa quwwata illa billah.” (Dengan nama Allah, aku bertawakal kepada Allah, tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah.) Ini bisa diajarkan saat anak mau berangkat sekolah, atau memulai kegiatan baru.
- “Hasbunallah wa ni’mal wakeel.” (Cukuplah Allah sebagai penolong kami, dan Allah adalah sebaik-baik pelindung.) Kalimat ini bisa diucapkan saat anak merasa khawatir atau menghadapi masalah.
Implementasi Praktis dalam Keseharian
- Libatkan dalam Doa Sehari-hari: Biasakan anak ikut berdoa setiap selesai salat atau sebelum tidur, dan ingatkan bahwa kita berdoa hanya kepada Allah karena Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.
- Contohkan oleh Orang Tua: Anak adalah peniru ulung. Tunjukkan kepada mereka bagaimana Anda bertawakal dalam kehidupan sehari-hari. Ketika menghadapi kesulitan, ceritakan bagaimana Anda berusaha dan menyerahkan hasilnya kepada Allah.
- Bacakan Kisah Nabi dan Sahabat: Kisah-kisah Nabi Muhammad SAW dan para sahabat yang penuh dengan tawakal bisa menjadi inspirasi kuat bagi anak.
Dengan mengajarkan tawakal sejak dini, kita membekali anak dengan kekuatan spiritual yang luar biasa. Mereka akan tumbuh menjadi individu yang memiliki ketenangan hati, keyakinan diri, dan selalu optimis dalam menghadapi setiap fase kehidupan, karena mereka tahu, Allah SWT selalu bersama mereka.






