• Backup Home
  • Home 2
  • Privacy Policy
  • Qasidah dan Shalawat Page
  • Rawi Simthud Duror dan Terjemah
  • Tentang Kami
  • Terms and Conditions
  • Home
Kitab Kuning Digital
No Result
View All Result
Wednesday, September 2, 2026
  • Home
  • Kajian Kitab
    • Hikmatut Tasyrif wa Falsafatuhu
    • Tafsir Mimpi Ibnu Sirin
    • Safiinatun Najaah
    • Taklim Muta`allim
  • Qasidah
  • PDF Kitab Kuning
  • Khutbah
  • Manakib
  • Shalat
  • Apps
  • Artikel
  • Tentang Kami
  • Home
  • Kajian Kitab
    • Hikmatut Tasyrif wa Falsafatuhu
    • Tafsir Mimpi Ibnu Sirin
    • Safiinatun Najaah
    • Taklim Muta`allim
  • Qasidah
  • PDF Kitab Kuning
  • Khutbah
  • Manakib
  • Shalat
  • Apps
  • Artikel
  • Tentang Kami
No Result
View All Result
Kitab Kuning Digital
No Result
View All Result
  • PDF
  • Qasidah
  • Doa-doa
  • Kajian Kitab
  • Tuntunan Ibadah
  • Apps
  • Artikel
  • Infografis
  • Khutbah
  • Manakib
  • Tanya Jawab Keislaman
  • Tentang Kami

Imam Lupa Takbir Sunat Shalat ‘Ied dan Mengulanginya, Batalkah Shalatnya?

Kitab Kuning Digital by Kitab Kuning Digital
2023-12-11
in Shalat
Reading Time: 4 mins read
A A
0
34
SHARES
172
VIEWS
FacebookTwitterWhatsappTelegramLine

LADUNI. ID-FIQH– Shalat sunat idul Adha dan Idul Fitri hanya dilakukan sekali dalan ditahun. Realita di masyarakat sangat banyak terjadi fenomena dalam pelaksanaannya. Salah satu diantaranya Imam yang tertinggal takbir antara doa iftitah dan ta’awaudh. 

Tertinggal baik rakaat pertama atau kedua, ada yang sama sekali tidak membacanya bahkan ada yang membaca kembali setelah Alfatihah.
Lebih tragis lagi ada shalat aid dua kali dalam sekali lebaran dan masih banyak fenomena lainnya. Kedudukan takbir tersebut pada dasarnya sunat dan apabila kita meninggalkannya shalat tetap sah.

Namun dalam pelaksanaan shalat sunat tersebut keberadaan dan tempat membaca takbir sunah itu  antara doa iftitah dan ta‘awudz. Apabila seorang imam sudah mulai membaca Surat Al-Fatihah, maka luputlah kesunahan baca takbir sunah tersebut. Ini sebagaimana diungkapkan dalam ibarat kitab berikut:

ووقت السبع الفاصل (بين الاستفتاح والتعوذ) فإن فعلها بعد التعوذ حصل أصل السنة لبقاء وقتها بخلاف ما إذا شرع في الفاتحة عمدا أو سهوا أو جهلا بمحله أو شرع إمامه قبل أن يأتي بالتكبير أو يتمه فإنه يفوت ولا يأتي به للتلبس بفرض ولو تداركه بعد الفاتحة سن له إعادتها أو بعد الركوع بأن ارتفع ليأتي به بطلت صلاته إن علم وتعمد 

Artinya, “Waktu membaca tujuh takbir adalah jeda antara doa (iftitah dan ta‘awudz [a‘ûdzu billâhi minas syaithânir rajîm] surat Al-Fatihah). Jika seseorang bertakbir setelah ta‘awudz, maka ia dapat keutamaan sunah karena waktunya masih ada. Lain soal bila seseorang sudah masuk ke surat Al-Fatihah sengaja, lupa, atau karena tidak tahu tempatnya, atau imam sudah mulai membaca surat sebelum makmum membaca takbir atau merampungkannya, maka luputlah kesunahan baca takbir sunah. Seorang makmum tidak perlu membaca takbir ketika itu karena bercampur dengan yang wajib (surat Al-Fatihah). Kalau seseorang menyusul baca takbir setelah surat Al-Fatihah, maka ia dianjurkan untuk mengulang baca Surat Al-Fatihah. Bila baca takbir setelah ruku, yakni bangun i’tidal, maka shalat orang tersebut batal jika ia mengathui dan sengaja,” (Imam Ibnu Hajar Al-Haitami, Kitab Al-Mihajul Qawim,hal.87).

Sementara itu jika seseorang ingatnya setelah selesai baca surat alfatihah sebelum rukuk, maka tidak sunah kembali bertakbir menurut Qaul Jadid, namun menurut qaul Qadim menyebutkan sunat kembali bertakbir dan sunat mengulangi Alfatihahnya. Penjelasan ini sebagaimana dijelaskan dalam kitab Al-Majmuk: 

وأما إذا نسي التكبيرات الزوائد في صلاة العيد فينظر إن تذكرها في الركوع أو بعده لم يعدها بلا خلاف لفوات محلها فإن كبرها في ركوعه وما بعده كره ولم تبطل صلاته لأن الأذكار لا تبطل الصلاة وإن كانت في غير موضعها وإن رجع إلى القيام ليكبرها بطلت صلاته إن كان عامدا عالما بتحريمه وإلا فلا تبطل ويسجد للسهو وإن تذكرها بعد القراءة وقبل الركوع فهي مسألة الكتاب وفيها القولان المذكوران في الكتاب (الجديد) أنه لا يكبر لفوات محله فإن محله عقب تكبيرة الإحرام (والقديم) أنه يكبر لبقاء القيام والأصح عند الأصحاب هو الجديد 
(المجموع شرح المهذب ٤ ص ١٥٣)

“Apabila seseorang lupa takbir zawaid dalam shalat aid, jika ia teringat pada rukuk atau sesudah rukuk tidak boleh mengulanginya dengan tiada khilaf disebabkan bukan lagi tempatnya. Jika ia bertakbir pada rukuk dan sesudahnya maka dimakruhkan dan tidak batal shalatnya. Indiktatornya zikir-zikir itu tidak membatalkan shalat sekalipun bukan pada tempatnya. Jika ia membaca kembali takbir tersebut pada berdiri (dari rukuk) maka batal shalatnya Jika ia mengaja dan mengetahui dengan haramnya perbuatan tersebut, jika bukan karena itu tidak batal dan sujud sahwi. Permasalahan teringat kembali takbir sesudah Alfatihah dan sebelum rukuk ada dua qaul, jadid dan qadim. Qaul Jadid jangan mengulanginya membaca takbir kembali karena bukan lagi tempatnya sebab tempatnya menyertai takbiratul Ihram. Qaul Qadim hendaknya bertakbir kembali Karena masih berdiri. Sedangkan pendapat yang kuat disini ashab qaul jadid. (Kitab Al-Majmuk Syarah Muhazzab, jld 4, hal. 153)

Sementara itu seseorang yang teringat pertengahan membaca Alfatihah. Pendapat Qaul Jadid juga berpendapat untuk tidak mengulanginya membaca takbir dan Qaul Jadid sebaliknya membolehkan membaca kembali takbir dan membaca fatihah kembali.

Sedangkan apabila memperdapatkannya takbir sesudah selesai fatihah disunatkan memulai kembali fatihah dan menurut satu pendapat wajib mengulanginya fatihah. Namun yang pendapat kuat disunatkan membacanya lagi Alfatihah tersebut.(Kitab Al-Majmuk Syarah Muhazzab :4:153)

***Helmi Abu Bakar El-Langkawi, Dayah MUDI Masjid Raya Samalanga Dan penggiat literasi asal Aceh

Related

Tags: IbadahImam lupa takbir sunnahImam ShalatShalatShalat Idul AdhaShalat Idul FitriTakbirTakbir SunnahTuntunan Ibadah
Share14Tweet9SendShareShare
Previous Post

Beberapa Keterangan Soal Shalat Idul Adha

Next Post

Hukum Mendirikan Sholat Jum’at Lebih dari Satu Kali

Kitab Kuning Digital

Kitab Kuning Digital

Penggiat Transformasi Digital keIslaman untuk mendukung Digitalisasi Kitab Kuning untuk pembelajaran masyarakat awam.

Artikel Terkait

Menyelenggarakan Shalat Jum’at di Kantor-kantor
Shalat

Menyelenggarakan Shalat Jum’at di Kantor-kantor

by Kitab Kuning Digital
2023-12-11
0

Menyelenggarakan Shalat Jum’at di Kantor-kantor  Pertanyaan : Bolehkan menyelenggarakan shalat Jum’at di tempat-tempat seperti kantor-kantor dan sebagainya ?. Jawab : Menyelenggarakan shalat Jum’at di tempat-tempat seperti...

Read moreDetails
Shalat Gerhana Bulan Setelah Subuh

Shalat Gerhana Bulan Setelah Subuh

2023-12-11
Tata Cara Sujud Tilawah

Tata Cara Sujud Tilawah

2023-12-11
Shalat Jum’at Sebagai Pengganti Shalat Zhuhur bagi Wanita

Shalat Jum’at Sebagai Pengganti Shalat Zhuhur bagi Wanita

2023-12-11
Next Post
Hukum Mendirikan Sholat Jum’at Lebih dari Satu Kali

Hukum Mendirikan Sholat Jum’at Lebih dari Satu Kali

Alasan yang Memperbolehkan Sholat Jum’at Lebih dari Satu Tempat

Alasan yang Memperbolehkan Sholat Jum’at Lebih dari Satu Tempat

Inilah Hukum Shalat Dhuha secara Berjamaah

Inilah Hukum Shalat Dhuha secara Berjamaah

Inilah Hukum Shalat Hari Raya di Lapangan

Inilah Hukum Shalat Hari Raya di Lapangan

© 2025 DH Tech - Daarul Hijrah Tech Kitab Kuning Digital.

No Result
View All Result
  • PDF
  • Qasidah
  • Doa-doa
  • Kajian Kitab
  • Tuntunan Ibadah
  • Apps
  • Artikel
  • Infografis
  • Khutbah
  • Manakib
  • Tanya Jawab Keislaman
  • Tentang Kami

© 2025 DH Tech - Daarul Hijrah Tech Kitab Kuning Digital.