الْوَقْتُ هُوَ الْحَيَاةُ
Waktu adalah kehidupan.
أَيُّهَا الْوَلَدُ، مِنْ جُمْلَةِ مَا نَصَحَ بِهِ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ أُمَّتَهُ:
Wahai ananda, di antara untaian nasihat yang disampaikan Rasulullah ﷺ kepada umatnya adalah:
قَوْلُهُ: «عَلَامَةُ إِعْرَاضِ اللَّهِ تَعَالَى عَنِ الْعَبْدِ اشْتِغَالُهُ بِمَا لَا يَعْنِيهِ، وَإِنَّ امْرَأً ذَهَبَتْ سَاعَةٌ مِنْ عُمْرِهِ فِي غَيْرِ مَا خُلِقَ لَهُ لَجَدِيرٌ أَنْ تَطُولَ عَلَيْهِ حَسْرَتُهُ، وَمَنْ جَاوَزَ الْأَرْبَعِينَ وَلَمْ يَغْلِبْ خَيْرُهُ شَرَّهُ فَلْيَتَجَهَّزْ إِلَى النَّارِ»
Sabda beliau: “Tanda berpalingnya Allah Ta’ala dari seorang hamba adalah manakala hamba tersebut disibukkan dengan perkara yang tidak berguna baginya. Dan sesungguhnya seseorang yang berlalu satu saat saja dari usianya untuk perkara yang bukan menjadi tujuan ia diciptakan, sungguh amat layak baginya penyesalan yang berkepanjangan. Dan barang siapa usianya telah melampaui empat puluh tahun sementara amal kebaikannya tidak mampu mengungguli keburukannya, maka hendaklah ia bersiap-siap menuju neraka.” (Catatan Penerjemah: Frasa ‘fī ghairi mā khuliqa lahu’ secara leksikal bermakna ‘untuk selain tujuan ia diciptakan’, yakni menyembah dan mengesakan Allah sesuai QS. Adz-Dzariyat: 56. Sedangkan kata ‘hasratuhu’ lebih tepat dimaknai penyesalan yang mendalam [al-hasrah], bukan sekadar kerugian biasa).
وَفِي هَذِهِ النَّصِيحَةِ كِفَايَةٌ لِأَهْلِ الْعِلْمِ
Dan di dalam nasihat ini sungguh telah terdapat kecukupan (peringatan yang amat memadai) bagi orang-orang yang berilmu.







