مَتَى تَنْفَعُ النَّصِيحَةُ
Kapan nasihat itu bermanfaat.
أَيُّهَا الْوَلَدُ، النَّصِيحَةُ سَهْلَةٌ وَالْمُشْكِلُ قَبُولُهَا؛ لِأَنَّهَا فِي مَذَاقِ مُتَّبِعِي الْهَوَى مُرَّةٌ، إِذِ الْمَنَاهِي مَحْبُوبَةٌ فِي قُلُوبِهِمْ، عَلَى الْخُصُوصِ لِمَنْ كَانَ طَالِبَ الْعِلْمِ الرَّسْمِيِّ، مُشْتَغِلًا فِي فَضْلِ النَّفْسِ وَمَنَاقِبِ الدُّنْيَا
Wahai ananda, memberi nasihat itu perkara yang mudah, sedangkan yang sulit adalah menerimanya; sebab bagi para penurut hawa nafsu, nasihat itu terasa getir lantaran hal-hal yang dilarang justru sangat digemari di dalam hati mereka. Terlebih lagi bagi orang yang menuntut ilmu formal/eksoteris (ilmu zhahir sekadar demi gelar dan keahlian debat formal), yang senantiasa sibuk mengejar keunggulan ego diri dan kemegahan keduniaan. (Catatan Penerjemah: ‘Al-‘Ilm ar-rasmī’ adalah istilah para sufi bagi ilmu formalitas zhahir yang dipelajari demi status dan bantah-bantahan, bukan untuk pembersihan jiwa; adapun ‘fadhli an-nafs’ bermakna mencari gengsi dan keunggulan diri).
فَإِنَّهُ يَحْسَبُ أَنَّ الْعِلْمَ الْمُجَرَّدَ لَهُ سَيَكُونُ نَجَاتَهُ وَخَلَاصَهُ فِيهِ، وَأَنَّهُ مُسْتَغْنٍ عَنِ الْعَمَلِ، وَهَذَا اعْتِقَادُ الْفَلَاسِفَةِ
Sebab ia menyangka bahwa ilmu murni semata (tanpa amal) sudah cukup menjadi keselamatan dan kebebasannya, dan ia mengira dirinya tidak memerlukan pengamalan; padahal yang demikian ini merupakan keyakinan kaum filosof (yang mengira pencerahan akal pikiran sudah mencukupi tanpa pensucian amal jasad).
سُبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيمِ! لَا يَعْلَمُ هَذَا الْمَغْرُورُ أَنَّهُ حِينَ حَصَّلَ الْعِلْمَ، إِذَا لَمْ يَعْمَلْ بِهِ تَكُونُ الْحُجَّةُ عَلَيْهِ آكَدَ
Maha Suci Allah Yang Maha Agung! Orang yang teperdaya ini tidak menyadari bahwa tatkala ia telah menguasai ilmu, apabila ia tidak mengamalkannya, maka tuntutan hujjah Allah atas dirinya kelak justru akan semakin kuat memberatkannya. (Catatan Penerjemah: Frasa ‘takūnul hujjatu ‘alaihi ākad’ bermakna tuntutan pertanggungjawaban di hadapan Allah kelak akan semakin tak terbantahkan dan amat memberatkan si empunya ilmu, bukan bermakna ‘terdapat dalil yang kuat’).
كَمَا قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «أَشَدُّ النَّاسِ عَذَابًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَالِمٌ لَا يَنْفَعُهُ اللَّهُ بِعِلْمِهِ»
Sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ: “Manusia yang paling pedih siksanya pada hari kiamat adalah orang berilmu yang Allah tidak memberi kemanfaatan kepadanya dengan ilmunya.”
وَرُوِيَ أَنَّ الْجُنَيْدَ — قَدَّسَ اللَّهُ رُوحَهُ الْعَزِيزَ — رُئِيَ فِي الْمَنَامِ بَعْدَ مَوْتِهِ، فَقِيلَ لَهُ: «مَا الْخَبَرُ يَا أَبَا الْقَاسِمِ؟»، قَالَ: «طَاحَتِ الْعِبَارَاتُ، وَفَنِيَتِ الْإِشَارَاتُ، وَمَا نَفَعَنَا إِلَّا رُكَيْعَاتٌ رَكَعْنَاهَا فِي جَوْفِ اللَّيْلِ»
Dan diriwayatkan bahwasanya Syaikh Al-Junaid — semoga Allah menyucikan ruhnya yang mulia — pernah dimimpikan oleh seseorang sesudah kewafatannya. Maka ditanyakan kepadanya: “Bagaimana keadaanmu sekarang, wahai Abul Qasim?” Beliau menjawab: “Telah runtuh segala untaian kata dan telah sirna segala isyarat (teori tasawuf); tiada lagi yang memberi manfaat bagi kami selain beberapa rakaat kecil (shalat malam yang tulus) yang pernah kami tunaikan di keheningan tengah malam.” (Catatan Penerjemah: Kata ‘rukaī’āt’ menggunakan bentuk tashghīr [pengecilan] untuk menunjukkan ketawadukan atas rakaat-rakaat shalat malam yang sedikit dan bersahaja).







