• Backup Home
  • Home 2
  • Privacy Policy
  • Qasidah dan Shalawat Page
  • Rawi Simthud Duror dan Terjemah
  • Tentang Kami
  • Terms and Conditions
  • Home
Kitab Kuning Digital
No Result
View All Result
Thursday, September 24, 2026
  • Home
  • Kajian Kitab
    • Hikmatut Tasyrif wa Falsafatuhu
    • Tafsir Mimpi Ibnu Sirin
    • Safiinatun Najaah
    • Taklim Muta`allim
  • Qasidah
  • PDF Kitab Kuning
  • Khutbah
  • Manakib
  • Shalat
  • Apps
  • Artikel
  • Tentang Kami
  • Home
  • Kajian Kitab
    • Hikmatut Tasyrif wa Falsafatuhu
    • Tafsir Mimpi Ibnu Sirin
    • Safiinatun Najaah
    • Taklim Muta`allim
  • Qasidah
  • PDF Kitab Kuning
  • Khutbah
  • Manakib
  • Shalat
  • Apps
  • Artikel
  • Tentang Kami
No Result
View All Result
Kitab Kuning Digital
No Result
View All Result
  • PDF
  • Qasidah
  • Doa-doa
  • Kajian Kitab
  • Tuntunan Ibadah
  • Apps
  • Artikel
  • Infografis
  • Khutbah
  • Manakib
  • Tanya Jawab Keislaman
  • Tentang Kami

Kapan nasihat itu bermanfaat.

Kitab Kuning Digital by Kitab Kuning Digital
2026-09-24
in Ayyuhal Walad, Kajian Kitab
Reading Time: 2 mins read
A A
0
1
SHARES
3
VIEWS
FacebookTwitterWhatsappTelegramLine

مَتَى تَنْفَعُ النَّصِيحَةُ

Kapan nasihat itu bermanfaat.

أَيُّهَا الْوَلَدُ، النَّصِيحَةُ سَهْلَةٌ وَالْمُشْكِلُ قَبُولُهَا؛ لِأَنَّهَا فِي مَذَاقِ مُتَّبِعِي الْهَوَى مُرَّةٌ، إِذِ الْمَنَاهِي مَحْبُوبَةٌ فِي قُلُوبِهِمْ، عَلَى الْخُصُوصِ لِمَنْ كَانَ طَالِبَ الْعِلْمِ الرَّسْمِيِّ، مُشْتَغِلًا فِي فَضْلِ النَّفْسِ وَمَنَاقِبِ الدُّنْيَا

Wahai ananda, memberi nasihat itu perkara yang mudah, sedangkan yang sulit adalah menerimanya; sebab bagi para penurut hawa nafsu, nasihat itu terasa getir lantaran hal-hal yang dilarang justru sangat digemari di dalam hati mereka. Terlebih lagi bagi orang yang menuntut ilmu formal/eksoteris (ilmu zhahir sekadar demi gelar dan keahlian debat formal), yang senantiasa sibuk mengejar keunggulan ego diri dan kemegahan keduniaan. (Catatan Penerjemah: ‘Al-‘Ilm ar-rasmī’ adalah istilah para sufi bagi ilmu formalitas zhahir yang dipelajari demi status dan bantah-bantahan, bukan untuk pembersihan jiwa; adapun ‘fadhli an-nafs’ bermakna mencari gengsi dan keunggulan diri).

فَإِنَّهُ يَحْسَبُ أَنَّ الْعِلْمَ الْمُجَرَّدَ لَهُ سَيَكُونُ نَجَاتَهُ وَخَلَاصَهُ فِيهِ، وَأَنَّهُ مُسْتَغْنٍ عَنِ الْعَمَلِ، وَهَذَا اعْتِقَادُ الْفَلَاسِفَةِ

Sebab ia menyangka bahwa ilmu murni semata (tanpa amal) sudah cukup menjadi keselamatan dan kebebasannya, dan ia mengira dirinya tidak memerlukan pengamalan; padahal yang demikian ini merupakan keyakinan kaum filosof (yang mengira pencerahan akal pikiran sudah mencukupi tanpa pensucian amal jasad).

سُبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيمِ! لَا يَعْلَمُ هَذَا الْمَغْرُورُ أَنَّهُ حِينَ حَصَّلَ الْعِلْمَ، إِذَا لَمْ يَعْمَلْ بِهِ تَكُونُ الْحُجَّةُ عَلَيْهِ آكَدَ

Maha Suci Allah Yang Maha Agung! Orang yang teperdaya ini tidak menyadari bahwa tatkala ia telah menguasai ilmu, apabila ia tidak mengamalkannya, maka tuntutan hujjah Allah atas dirinya kelak justru akan semakin kuat memberatkannya. (Catatan Penerjemah: Frasa ‘takūnul hujjatu ‘alaihi ākad’ bermakna tuntutan pertanggungjawaban di hadapan Allah kelak akan semakin tak terbantahkan dan amat memberatkan si empunya ilmu, bukan bermakna ‘terdapat dalil yang kuat’).

كَمَا قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «أَشَدُّ النَّاسِ عَذَابًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَالِمٌ لَا يَنْفَعُهُ اللَّهُ بِعِلْمِهِ»

Sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ: “Manusia yang paling pedih siksanya pada hari kiamat adalah orang berilmu yang Allah tidak memberi kemanfaatan kepadanya dengan ilmunya.”

وَرُوِيَ أَنَّ الْجُنَيْدَ — قَدَّسَ اللَّهُ رُوحَهُ الْعَزِيزَ — رُئِيَ فِي الْمَنَامِ بَعْدَ مَوْتِهِ، فَقِيلَ لَهُ: «مَا الْخَبَرُ يَا أَبَا الْقَاسِمِ؟»، قَالَ: «طَاحَتِ الْعِبَارَاتُ، وَفَنِيَتِ الْإِشَارَاتُ، وَمَا نَفَعَنَا إِلَّا رُكَيْعَاتٌ رَكَعْنَاهَا فِي جَوْفِ اللَّيْلِ»

Dan diriwayatkan bahwasanya Syaikh Al-Junaid — semoga Allah menyucikan ruhnya yang mulia — pernah dimimpikan oleh seseorang sesudah kewafatannya. Maka ditanyakan kepadanya: “Bagaimana keadaanmu sekarang, wahai Abul Qasim?” Beliau menjawab: “Telah runtuh segala untaian kata dan telah sirna segala isyarat (teori tasawuf); tiada lagi yang memberi manfaat bagi kami selain beberapa rakaat kecil (shalat malam yang tulus) yang pernah kami tunaikan di keheningan tengah malam.” (Catatan Penerjemah: Kata ‘rukaī’āt’ menggunakan bentuk tashghīr [pengecilan] untuk menunjukkan ketawadukan atas rakaat-rakaat shalat malam yang sedikit dan bersahaja).

ShareTweetSendShareShare
Previous Post

Waktu adalah kehidupan.

Kitab Kuning Digital

Kitab Kuning Digital

Penggiat Transformasi Digital keIslaman untuk mendukung Digitalisasi Kitab Kuning untuk pembelajaran masyarakat awam.

Artikel Terkait

Tafsir Mimpi Melihat Kota: Simbol Persatuan, Keamanan, dan Kehidupan Sosial
Kajian Kitab

Mimpi Naik Tangga: Pertanda Kenaikan Derajat dan Ketakwaan

by Muhammad Fariz Kasyidi
2024-11-19
0

Tangga - مرقاة مرقاة: وكل المراقي أعمال الخير لقوله ﷺ: «اقرأ وارق» فالصعود منها إذا كان من طين أو لبن...

Read moreDetails
Mimpi Melihat Pelangi: Apakah Ini Pertanda Hujan Rezeki atau Musibah?

Tafsir Mimpi Melihat Pembakar dupa: Simbol Pujian, Kesehatan, dan Harta

2024-11-19

Hikmah Syarat-Syarat Puasa yang Bersifat Batiniyah

2023-12-31
Mimpi Melihat Syimar: Pertanda Pujian dan Kebaikan?

Tafsir Mimpi Melintasi Jembatan: Pertanda Keselamatan dan Keberhasilan

2024-11-15
Please login to join discussion

© 2025 DH Tech - Daarul Hijrah Tech Kitab Kuning Digital.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • PDF
  • Qasidah
  • Doa-doa
  • Kajian Kitab
  • Tuntunan Ibadah
  • Apps
  • Artikel
  • Infografis
  • Khutbah
  • Manakib
  • Tanya Jawab Keislaman
  • Tentang Kami

© 2025 DH Tech - Daarul Hijrah Tech Kitab Kuning Digital.