مَتَى يَنْفَعُ الْعِلْمُ
Kapan ilmu itu bermanfaat.
أَيُّهَا الْوَلَدُ، لَا تَكُنْ مِنَ الْأَعْمَالِ مُفْلِسًا، وَلَا مِنَ الْأَحْوَالِ خَالِيًا، وَتَيَقَّنْ أَنَّ الْعِلْمَ الْمُجَرَّدَ لَا يَأْخُذُ بِالْيَدِ
Wahai ananda, janganlah engkau menjadi orang yang bangkrut dari amal perbuatan, dan jangan pula kosong dari ahwal (penghayatan batin spiritual); serta yakinlah bahwasanya ilmu semata tanpa pengamalan tidak akan mampu mengulurkan tangan pertolongan (menyelamatkanmu kelak). (Catatan Penerjemah: Ungkapan ‘lā ya’khudzu bil-yad’ adalah idiom sastra Arab klasik untuk pertolongan yang menyelamatkan seseorang dari kebinasaan. Sedangkan ‘al-ahwāl’ adalah kondisi ruhani dan rasa takut/harap yang bersemi di dalam kalbu).
مِثَالُهُ: لَوْ كَانَ عَلَى رَجُلٍ فِي بَرِّيَّةٍ عَشَرَةُ أَسْيَافٍ هِنْدِيَّةٍ مَعَ أَسْلِحَةٍ أُخْرَى، وَكَانَ الرَّجُلُ شُجَاعًا وَأَهْلَ حَرْبٍ، فَحَمَلَ عَلَيْهِ أَسَدٌ مُهِيبٌ؛ فَمَا ظَنُّكَ؟ هَلْ تَدْفَعُ الْأَسْلِحَةُ شَرَّهُ عَنْهُ بِلَا اسْتِعْمَالِهَا وَضَرْبٍ بِهَا؟ وَمِنَ الْمَعْلُومِ أَنَّهَا لَا تَدْفَعُ إِلَّا بِالتَّحْرِيكِ وَالضَّرْبِ
Perumpamaannya: Seandainya ada seseorang di tengah padang belantara menyandang sepuluh bilah pedang India (yang terkenal sangat kokoh dan tajam) beserta aneka senjata lainnya, dan ia adalah sosok yang pemberani lagi ahli dalam peperangan, lalu tiba-tiba ia diserang oleh seekor singa yang amat menakutkan; maka bagaimana menurut pandanganmu? Apakah senjata-senjata tersebut sanggup menolak bahaya singa itu darinya tanpa digenggam dan ditebaskan? Tentu sudah sangat maklum bahwa senjata-senjata itu tidak akan mampu menolak marabahaya kecuali dengan digerakkan dan ditebaskan.
فَكَذَا لَوْ قَرَأَ رَجُلٌ مِائَةَ أَلْفِ مَسْأَلَةٍ عِلْمِيَّةٍ وَتَعَلَّمَهَا وَلَمْ يَعْمَلْ بِهَا، لَا تُفِيدُهُ إِلَّا بِالْعَمَلِ. وَمِثَالُهُ أَيْضًا: لَوْ كَانَ لِرَجُلٍ حَرَارَةٌ وَمَرَضٌ صَفْرَاوِيٌّ يَكُونُ عِلَاجُهُ بِالسَّكَنْجَبِينِ وَالْكَشْكَابِ، فَلَا يَحْصُلُ الْبُرْءُ إِلَّا بِاسْتِعْمَالِهِمَا
Maka demikian pulalah, andaikata seseorang menelaah seratus ribu persoalan ilmiah dan mempelajarinya secara mendalam namun ia tidak mengamalkannya, ilmu itu sama sekali tidak akan memberi manfaat kepadanya kecuali dengan adanya amal nyata. Contoh lainnya pula: Seandainya seseorang tertimpa demam panas dan penyakit empedu (penyakit kuning) yang obat penawarnya adalah ramuan sakanjabin dan ramuan kasykab, maka kesembuhan tidak akan pernah terwujud kecuali dengan mengonsumsi kedua ramuan obat tersebut. (Catatan Penerjemah: ‘As-Sakanjabīn’ dan ‘al-kasykāb’ bukan nama tanaman/tumbuhan. Sakanjabīn adalah ramuan sirup medis klasik campuran cuka dan madu [dari bahasa Persia ‘sirkeh-angabīn’]. Sedangkan kasykāb adalah air rebusan sari pati gandum jelai [barley water] yang digunakan dalam pengobatan thibbun nabawi dan kedokteran klasik sebagai diet pemulihan).
شِعْرٌ: گَر مَيْ دُو هَزَار بَار بَيْمَايِي ۞ تَا مَيْ نَخُورِي نَبَاشَدَتْ شَيْدَايِي
Untaian Syair (Bahasa Persia): “Kalaulah engkau menakar khamar (anggur) sebanyak dua ribu kali, selama engkau tidak meminumnya, engkau takkan pernah merasakan mabuk kepayang.” (Catatan Penerjemah: Bait ini menggambarkan bahwa mengetahui ribuan teori tentang ilmu tidak akan memberikan rasa pencerahan batin sampai ilmu tersebut diteguk dan diwujudkan ke dalam pengamalan).







