حكمة السباق
Hikmah Bertanding
السباق: هو أن يسابق الرجل صاحبه في نوع من الحيوان مثل الخيل والإبل. والحكمة فيه جليلة عظيمة. لأن هذا السباق يورث الشدة والإقدام على جلائل الأعمال من الفروسية وغيرها حتى أن الإنسان في قليل من الزمن يصير مستعدًا لأسباب الجهاد في الجملة. ولا ريب أن تعليم أسباب الجهاد من أعظم الأشياء نفعًا عند الله والناس .
Bertanding ialah jika orang laki-laki menandingi orang lain dengan mengendarai hewan sejenis kuda atau unta. Hikmahnya sangat besar. Karena bertanding ini memberikan dampak kekuatan dan keberanian terhadap sikap penunggang kuda yang baik dan sikap lainnya, sehingga orang dalam waktu pendek siap sedia untuk berjihad dari segala aspeknya. Tidak diragukan lagi bahwa mengajari berjihad adalah suatu perbuatan yang sangat agung di sisi Allah dan di tengah manusia.
وكان العرب في جاهليتهم يعلمون أبناءهم السباق في حالة الصغر حتى إذا شبّ الغلام وترعرع وجد نفسه متأهلًا للكر والفر. ولا بد لهذا السباق من شروط قد شرطها الشارع إذا تعداها الإنسان فقد ضل وغوى.
Bangsa Arab pada zaman jahiliyah mengajari anak-anak mereka untuk menjad joki penunggang kuda dan berpacu di waktu masih kecil, sampai apabila anak telah menjadi pemuda dan dewasa siap untuk berperang. Dalam bertanding ini terdapat syarat-syarat yang ditetapkan oleh Allah, apabila manusia melanggamya berarti ia telah sesat.
منها أن يكون في الأنواع الأربعة التي ذكرها رسول الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وهي الحافر والخف والنصل والقدم لأنه قال صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:
Di antara syarat itu adalah; Pertama, hendaknya pertandingan itu dilakukan pada empat macam pertandingan yang disebutkan di dalam hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. yakni kaki hewan, stiwel, mata tombak, dan kaki (manusia). Sabda nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam:
«لَا سَبَقَ إِلَّا فِي خُفٍّ أَوْ حَافِرٍ أَوْ نَصْلٍ»
Artinya: “Tiada bertanding melainkan dalam stiwel, kaki hewan, dan mata tombak (anak panah).”
وزيد السبق في القدم بالحديث الذي روي عن السيدة عائشة رضي الله عنها قالت:
Ditambah lagi dengan “Kaki” berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Sayidah Aisyah, ia mengatakan:
(سَابَقَتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَسَبَقْتُهُ فَلَمَّا حَمَلْتُ اللَّحْمَ سَابَقْتُهُ فَسَبَقَنِي فَقُلْتُ هٰذِهِ بِتِلْكَ)
Artinya: “Saya bertanding dengan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. kemudian saya menang. Tetapi ketika saya hamil, saya bertanding dengan dia maka ia menang, kemudian aku mengatakan; ini dengan itu.”
وروي عن سعيد بن المسيب أنه قال: إن العضبا ناقة ورسول الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كانت تسبق كلما دفعت في سباق. فدفعت يومًا في إبل فسبقت فكانت على المسلمين كآبة إذ سبقت. فقال رسول الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:
Diriwayatkan dari Sa’id Ibnu Musayyab bahwa ia mengatakan: Sesungguhnya Adlbaan itu unta Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang menang setiap kali bertanding. Maka pada suatu hari ada pertandingan unta dan Adlbaan menang, kemudian kaum muslimin sedih jika Adlbaan menang. Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. bersabda:
«إِنَّ النَّاسَ إِذَا رَفَعُوْا شَيْئًا أَوْ أَرَادُوْا رَفْعَ شَيْءٍ وَضَعَهُ اللهُ».
Artinya: “Sesungguhnya manusia jika mengangkat sesuatu atau hendak mengangkat sesuatu, maka Allah menurunkannya”.
ومنها أن يكون الخطر فيها من جانب واحد. لأنه إذا كان الخطر من الجانبين ولم يدخلا فيه محللًا لا يجوز وصار في معنى القمار.
Syarat kedua, hendaknya kerugian hanya diderita oleh satu fihak. Karena jika kerugian itu dirasakan oleh kedua belah fihak, sementara keduanya tidak memasukkan sesuatu yang halal di dalamnya maka hal itu tidak boleh dan berarti perjudian.
والخطر من جانب واحد كأن يقول أحدهما لصاحبه: إن سبقتني فلك علي كذا. وإن سبقتك فلا شيء عليك. وكذلك إذا قال الملك مثلًا لرجلين: من سبق منكما فله كذا فهو جائز
Yang dimaksud kerugian hanya dirasakan oleh satu fihak, misalnya seseorang mengatakan kepada temannya: jika kamu menang dalam bertanding denganku maka aku harus demikian untukmu, dan jika aku menang maka tak ada kewajiban bagimu untuk melakukan sesuatu untukku. Demikian bila raja mengatakan kepada dua orang laki-laki umpamanya: Siapa di antara kalian menang bertanding maka ia mendapatkan itu. Maka yang demikian itu boleh.
ومنها أن تكون المسابقة فيما يحتمل أن يسبق ويسبق من الأشياء الأربعة. حتى إذا كان يتحقق أنه يسبق غالبًا فلا تجوز المسابقة لأنها لا فائدة فيها .
Syarat yang ketiga, dalam bertanding itu hendaknya yang akan dimenangkan dan dipertandingkan adalah empat hal yang telah disebutkan di atas, sehingga apabila dipraktekkan bisa terjadi suatu kemenangan, bila tidak maka tak ada gunanya.








