اعلم أنه يُستحبّ إحياء ليلتي العيدين بذكر الله تعالى والصلاة وغيرهما من الطاعات للحديث الوارد في ذلك:
Perlu diperhatikan, disunnahkan menghidupkan malam dua hari raya dengan berzikir kepada Allah, melakukan shalat, dan lain sebagainya, melakukan amalan-amalan, dan taat kepada Allah Subhanahu wa ta’ala Hal ini berdasarkan hadits:
“مَنْ أَحْيا لَيْلَتي العِيدِ لَمْ يَمُتْ قَلْبُهُ يَوْمَ تَمُوتُ القُلُوبُ”
“Barang siapa yang menghidupkan malam dua hari raya, maka hatinya tidak akan mati pada hari ketika hati-hati yang lain mati.”
Dalam redaksi riwayat lain disebutkan:
ورُوي مَنْ قَامَ لَيْلَتي العِيدَيْنِ لِلَّهِ مُحْتَسِبًا لَمْ يَمُتْ قَلْبُهُ حينَ تَمُوتُ القُلُوبُ”
“Barang siapa yang mendirikan shalat pada malam dua hari raya karena mengharap ridha Allah semata, maka hatinya tidak akan mati pada saat hati-hati yang lain mati.”
هكذا جاء في رواية الشافعي وابن ماجه، وهو حديث ضعيف رويناه من رواية أبي أمامة مرفوعًا وموقوفًا، وكلاهما ضعيف، لكن أحاديث الفضائل يُتسامح فيها كما قدّمناه في أوّل الكتاب.
Redaksi ini berdasarkan riwayat Imam Syafi’i dan Ibnu Majah. Dia adalah hadits yang dhaif, aku telah meriwayatkan dari Abu Umamah dengan riwayat yang marfu’ dan berhenti pada sanadnya, dan keduanya dhaif, akan tetapi sudah saya jelaskan pada awal pembahasan kitab untuk keutamaan amal, tidak mengapa menggunakan hadits dhaif.
واختلف العلماءُ في القدر الذي يَحصل به الإِحياءُ، فالأظهرُ أنه لا يحصل إلا بمعظم الليل، وقيل: يَحصل بساعة.
Para ulama berbeda pendapat tentang kadar seberapa menghidupkan malam hari raya, yang jelas hal ini tidak akan berhasil kecuali dengan mengagungkan malam tersebut pada keseluruhan malam, ada juga yang berpendapat meski sesaat malam.









