Di zaman ini, kita sering terpukau oleh popularitas, gelar akademik, atau pencapaian duniawi seseorang. Tapi Islam punya ukuran kehormatan yang jauh lebih tinggi dari sekadar dunia: kedekatan seseorang dengan Al-Qur’an.
Orang yang hidup dengan Al-Qur’an — membacanya, menghafalnya, mengamalkannya — bukanlah manusia biasa. Mereka adalah golongan istimewa. Maka, menghormati mereka adalah bagian dari menghormati Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Menghormati Ahli Al-Qur’an adalah Bagian dari Taqwa
Allah berfirman:
ذَٰلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ
“Dan barangsiapa mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketaqwaan hati.”
(QS Al-Hajj: 32)
Muliakan orang yang dekat dengan Al-Qur’an, karena mereka adalah syi’ar Allah yang hidup. Setiap ayat yang mereka hafal, setiap huruf yang mereka lantunkan, adalah bagian dari kalam-Nya.
Salah Satu Bentuk Mengagungkan Allah
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ مِنْ إِجْلَالِ اللهِ تَعَالَىٰ إِكْرَامُ ذِي الشَّيْبَةِ الْمُسْلِمِ، وَحَامِلِ الْقُرْآنِ غَيْرِ الْغَالِي فِيهِ وَالْجَافِي عَنْهُ، وَإِكْرَامُ ذِي السُّلْطَانِ الْمُقْسِطِ
“Sesungguhnya termasuk mengagungkan Allah adalah memuliakan muslim yang sudah tua, penghafal Al-Qur’an yang tidak melampaui batas dan tidak menyimpang darinya, serta pemimpin yang adil.”
(HR. Abu Dawud – Hasan)
Hormati mereka bukan karena pribadi semata, tapi karena di dada mereka ada kalamullah. Bahkan yang sudah beruban pun dimuliakan, apalagi yang menjadikan Al-Qur’an sebagai jalan hidup.
Memuliakan Sesuai Kedudukan
Dari Aisyah Radhiyallahu ‘anha:
أَمَرَنَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَنْ نُنَزِّلَ النَّاسَ مَنَازِلَهُمْ
“Rasulullah ﷺ memerintahkan kami untuk menempatkan manusia sesuai kedudukannya.”
(HR. Abu Dawud)
Ahli Qur’an memiliki kedudukan mulia di sisi Allah. Maka tempatkan mereka di posisi yang layak — dalam majelis, dalam pergaulan, dalam doa-doa kita.
Bahkan di Dalam Kubur pun Didahulukan
Ketika para syuhada Perang Uhud hendak dikuburkan, Rasulullah ﷺ bersabda:
“أَيُّهُمَا أَكْثَرُ أَخْذًا لِلْقُرْآنِ؟” فَإِنْ أُشِيرَ إِلَى أَحَدِهِمَا قَدَّمَهُ فِي اللَّحْدِ
“Siapa di antara mereka yang lebih banyak hafal Al-Qur’an?” Jika ditunjuk salah satu, beliau mendahulukannya di liang lahat.”
(HR. Bukhari)
Bahkan dalam kondisi wafat sekalipun, Al-Qur’an tetap memuliakan pemiliknya.
Hati-hati Menyakiti Mereka
Allah memperingatkan:
وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوا فَقَدِ احْتَمَلُوا بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُبِينًا
“Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan, maka mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.”
(QS Al-Ahzab: 58)
Apalagi jika yang disakiti adalah para pengemban Al-Qur’an. Dalam hadits Qudsi, Allah berfirman:
مَنْ آذَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ
“Barangsiapa menyakiti wali-Ku, maka Aku menyatakan perang kepadanya.”
(HR. Bukhari)
Para Ulama adalah Wali Allah
Imam Abu Hanifah dan Imam Syafi’i berkata:
إِنْ لَمْ يَكُنِ الْعُلَمَاءُ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ وَلِيٌّ
“Jika para ulama bukan wali Allah, maka Allah tidak punya wali.”
Imam Ibnu ‘Asakir mengingatkan:
لُحُوْمَ الْعُلَمَاءِ مَسْمُومَةٌ
“Daging para ulama itu beracun…”
Barangsiapa menjatuhkan kehormatan mereka, niscaya Allah akan menimpakan bencana kepada dirinya sebelum kematian: yaitu matinya hati.
Penutup: Hormatilah Mereka agar Allah Muliakan Kita
Menghormati ahli Al-Qur’an bukan sekadar adab — itu adalah bentuk ketaatan kepada Allah dan penjagaan terhadap warisan kenabian. Jangan biarkan lidah kita mencela mereka. Jangan abaikan mereka dalam majelis-majelis kita. Jangan remehkan mereka hanya karena penampilan atau status sosial.
فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ، أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ، أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ
“Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah-Nya takut akan ditimpa cobaan atau azab yang pedih.”
(QS An-Nur: 63)








