Tips Mencari Pasangan untuk Anak Zaman Now
Menikah itu bukan cuma tentang acara resepsi yang meriah atau sekadar legal di mata hukum. Lebih dari itu, nikah adalah ibadah terpanjang dalam hidup. Iya, serius. Ibadah yang dijalani seumur hidup bareng seseorang sampai maut memisahkan.
Makanya, milih pasangan hidup itu nggak bisa asal-asalan. Nggak cukup cuma karena “klik”, “nyaman”, atau “sayang banget”. Karena pasangan hidup adalah partner kita dalam menjalani ibadah bareng, mendekat ke Allah bareng, dan tumbuh jadi pribadi yang lebih baik—bareng.
Empat Kriteria Pasangan dari Rasulullah SAW
Dalam hadits yang diriwayatkan Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda:
تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لِأَرْبَعٍ: لِمَالِهَا، وَلِحَسَبِهَا، وَجَمَالِهَا، وَلِدِينِهَا، فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ
“Perempuan itu dinikahi karena empat hal: karena hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan agamanya. Maka pilihlah yang baik agamanya, niscaya kamu akan beruntung.” (HR Bukhari, Muslim, Abu Dawud, an-Nasai, dan Ibnu Majah)
Yuk Kita Kupas Satu-satu:
1. Karena Hartanya
Jujur aja, kondisi finansial emang jadi salah satu faktor penting dalam pernikahan. Bukan matre ya, tapi realistis. Rumah tangga butuh dikelola dengan bijak, termasuk soal keuangan. Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari bilang, ini bisa jadi bagian dari pertimbangan kafa’ah (kecocokan atau kesetaraan) antara calon suami dan istri.
Tapi ingat, uang bukan segalanya. Apalagi kalau sampai mengorbankan akhlak dan agama hanya karena kejar “mapan”.
2. Karena Keturunannya
Banyak juga yang mempertimbangkan nasab atau asal-usul keluarga. Misalnya, anak ulama, bangsawan, atau orang terpandang. Itu sah-sah aja.
Tapi kata pepatah, “buah jatuh tak jauh dari pohonnya” itu nggak selalu berlaku. Banyak orang dengan latar belakang keluarga biasa, tapi agamanya luar biasa. Dan sebaliknya.
Ibnu Hajar menegaskan: kalau harus memilih antara perempuan keturunan ningrat tapi kurang agamanya, dengan perempuan biasa tapi taat beragama—pilih yang agamanya bagus. Itu yang utama.
3. Karena Parasnya
Siapa sih yang nggak pengen pasangan yang good looking? Gak salah kok, karena ketertarikan fisik itu penting. Bahkan, hadits ini juga jadi dasar anjuran untuk menikah dengan orang yang kita suka penampilannya.
Tapi ya, jangan berhenti di tampilan luar. Ibnu Hajar ngingetin, paras yang cantik/tampan harus sejalan sama akhlak yang indah juga. Kalau ada dua pilihan, satu cantik tapi kurang agamanya, satunya biasa aja tapi agamanya bagus—lagi-lagi, pilih yang agamanya oke.
Cantik atau tampan itu relatif, tapi akhlak yang baik itu tahan lama.
4. Karena Agamanya
Nah ini dia yang paling penting. Agama itu fondasi utama dalam rumah tangga. Kalau dua-duanya punya pemahaman dan komitmen agama yang baik, insyaAllah rumah tangga bakal lebih tenang, saling dukung, dan saling jaga dalam kebaikan.
Ibnu Hajar bilang, orang yang punya muru’ah (kehormatan diri) pasti akan menjadikan agama sebagai patokan utama, apalagi dalam hal sepenting pernikahan.
Imam Nawawi juga menegaskan bahwa hadits ini bukan perintah buat nikah karena harta, rupa, atau keturunan. Tapi justru mengkritik kecenderungan manusia yang terlalu fokus ke tiga hal itu dan lupa bahwa agama adalah yang paling utama.
Ada Hadits Tambahan Nih
Walaupun kualitas hadits ini dianggap dhaif (lemah), tapi bisa dijadikan bahan pertimbangan selama bukan untuk perkara hukum halal-haram:
“Janganlah kalian menikahi perempuan karena kecantikannya, karena bisa jadi kecantikannya itu justru merusak mereka. Jangan pula karena hartanya, bisa jadi hartanya membuat mereka sombong. Tapi nikahilah karena agamanya. Seorang budak perempuan berkulit hitam dan bertelinga sobek yang taat agama lebih utama.”
(HR Ibnu Majah no. 1849)
Kesimpulannya:
Empat kriteria dari Nabi SAW ini emang sering jadi pertimbangan dalam memilih pasangan: harta, keturunan, kecantikan, dan agama. Tapi semuanya akhirnya bermuara ke satu hal utama: agama dan akhlak.
Karena pernikahan itu bukan hanya tentang “aku dan kamu”, tapi tentang bagaimana kita saling menguatkan dalam taat, saling mendoakan dalam lelah, dan tetap bareng sampai surga. 🫶
Wallahu a’lam.








