Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering dengar nasihat yang bilang kalau suami punya “hak lebih” untuk mengingatkan istri soal ibadah. Akibatnya, nggak jarang kalau istri coba menegur suaminya untuk hal-hal sederhana seperti shalat, malah suaminya tersinggung dan merasa “siapa kamu yang nyuruh-nyuruh?”
Padahal, kalau kita mau balik lagi ke hadits Nabi Muhammad SAW, jelas banget bahwa baik suami maupun istri punya hak yang sama dalam hal mengingatkan ibadah. Nggak ada tuh yang lebih tinggi atau lebih rendah.
Hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah ini cukup jelas:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “رَحِمَ اللَّهُ رَجُرَجُلًا قَامَ مِنَ اللَّيْلِ فَصَلَّى وَأَيْقَظَ امْرَأَتَهُ، فَإِنْ أَبَتْ نَضَحَ فِي وَجْهِهَا الْمَاءَ، رَحِمَ اللَّهُ امْرَأَةً قَامَتْ مِنَ اللَّيْلِ فَصَلَّتْ وَأَيْقَظَتْ زَوْجَهَا، فَإِنْ أَبَى نَضَحَتْ فِي وَجْهِهِ الْمَاءَ”
“Allah memberi rahmat (senang) kepada seorang suami yang bangun malam kemudian shalat (tahajud) dan membangunkan istrinya. Jika istrinya enggan, dia mencipratkan air ke wajahnya. Begitu juga Allah senang kepada istri yang bangun malam kemudian shalat (tahajud) dan membangunkan suaminya. Jika suaminya enggan, dia mencipratkan air ke wajahnya.”
(HR Abu Dawud no 1308)
Lihat kan? Hadits ini tegas banget menunjukkan kalau dua-duanya punya peran saling membantu dalam kebaikan, bahkan dalam hal sekecil membangunkan untuk shalat malam.
Ngomong-ngomong, Abu Hurairah — sahabat Nabi yang meriwayatkan hadits ini — ternyata juga langsung mempraktikkan ajaran ini di rumahnya. Ini diceritakan oleh Abu ‘Utsman al-Hindi:
عَنْ أَبِي عُثْمَانَ قَالَ تَضَيَّفْتُ أَبَا هُرَيْرَةَ سَبْعًا فَكَانَ هُوَ وَامْرَأَتُهُ وَخَادِمُهُ يَعْتَقِبُونَ اللَّيْلَ أَثْلَاثًا يُصَلِّي هَذَا ثُمَّ يُوقِظُ هَذَا
“Abu ‘Utsman al-Hindi bercerita bahwa saat bertamu ke rumah Abu Hurairah selama tujuh hari, dia melihat Abu Hurairah, istrinya, dan pembantunya bergantian membagi malam menjadi tiga bagian untuk shalat malam. Salah satu dari mereka shalat di sepertiga awal, lalu membangunkan yang kedua untuk shalat di sepertiga berikutnya, dan seterusnya sampai sepertiga akhir.”
(HR al-Bukhari no. 5125)
Keren banget, ya? Ini bukti nyata gimana pasangan itu benar-benar kerja sama dalam urusan ibadah, bukan cuma saling menuntut.
Nah, Syekh Muhammad Syamsul Haq Abadi dalam bukunya ‘Aunul Ma’bud ‘ala Sunan Abi Dawud juga menambahkan catatan penting tentang hadits ini.
Menurut beliau, kalaupun harus mencipratkan air ke wajah pasangan supaya bangun untuk shalat malam, itu harus dengan kasih sayang, bukan dengan kekesalan. Beliau bahkan mengutip pendapat Ibnu Malik yang bilang bahwa dari hadits ini, kita belajar bahwa memaksa dalam kebaikan itu dianjurkan, baik suami ke istri maupun sebaliknya.
Dengan kata lain, ini ajaran tentang cinta dan kasih sayang, bukan tentang siapa yang berkuasa atas siapa.
Jadi, suami jangan baper kalau diingatkan istri untuk segera shalat, ya. Apalagi kalau sudah dekat-dekat habis waktu shalat. Istri juga, jangan ragu untuk dengan lembut mengingatkan suami.
Seperti yang disampaikan kalau untuk shalat tahajud yang hukumnya sunnah saja dianjurkan saling membangunkan bahkan sampai ciprat-ciprat air, apalagi shalat wajib yang hukumnya fardhu.
“Terlebih bila shalat wajib, tentu istri dianjurkan memaksa suami supaya segera shalat, lebih-lebih bila waktu sudah menunjukkan berakhirnya waktu shalat.”
Jadi intinya:
- Suami dan istri punya hak yang sama untuk saling mengingatkan dalam ibadah.
- Mengingatkan dalam kebaikan itu bagian dari kasih sayang, bukan bentuk merendahkan pasangan.
- Jangan gengsi untuk saling menegur dengan cinta, apalagi soal kewajiban ibadah!
Semoga Allah selalu menjadikan rumah tangga kita penuh keberkahan dan tolong-menolong dalam ketaatan.
Aamiin.








