Shalat Dhuha itu salah satu shalat sunnah yang waktu pelaksanaannya mulai setelah matahari terbit (sekitar 15 menit setelah syuruq) sampai sebelum masuk waktu Zuhur. Biasanya shalat ini dilakukan dua sampai delapan rakaat — bebas, tergantung kemampuan kita.
Nah, salah satu keutamaan Shalat Dhuha ini luar biasa banget: bisa membuka pintu rezeki dan jadi bentuk rasa syukur kita atas nikmat dari Allah. Rasulullah SAW bahkan pernah bilang kalau Shalat Dhuha itu bisa menggantikan sedekah untuk setiap sendi tubuh kita.
Seperti yang disebutkan dalam hadits:
عَنْ أَبِي ذَرٍّ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ يُصْبِحُ عَلَى كُلِّ سُلَامَى مِنْ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ فَكُلُّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةٌ وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ وَنَهْيٌ عَنْ الْمُنْكَرِ صَدَقَةٌ وَيُجْزِئُ مِنْ ذَلِكَ رَكْعَتَانِ يَرْكَعُهُمَا مِنْ الضُّحَى
Dari Abu Dzarr, dari Nabi SAW, beliau bersabda:
“Ada sedekah (yang harus dilakukan) atas setiap sendi tubuh kalian. Setiap tasbih (subhanallah) adalah sedekah, setiap tahmid (alhamdulillah) adalah sedekah, setiap tahlil (la ilaha illallah) adalah sedekah, setiap takbir (Allahu Akbar) adalah sedekah, amar makruf (mengajak kebaikan) adalah sedekah, nahi munkar (mencegah kemungkaran) juga sedekah. Dan semua itu bisa diwakili hanya dengan dua rakaat Shalat Dhuha.” (HR. Muslim no. 720)
Niat Shalat Dhuha
Kalau mau shalat, niatnya simpel banget:
اُصَلِّيْ سُنَّةَ الضُّحَى رَكْعَتَيْنِ لِلَّهِ تَعَالَى
Usholli sunnatad dhuha rok’ataini lillaahi ta’ala
“Aku niat melakukan sholat sunah Dhuha dua rakaat karena Allah Ta’ala.”
Bacaan dan Tahapan Shalat Dhuha
Shalat Dhuha atau Duha dilakukan dua rakaat – dua rakaat, tahapan setiap rakaat adalah sebagai berikut :
- Niat Shalat Dhuha (seperti dicontohkan dengan lafal di atas)
- Takbirotul Ihram
- Membaca Doa Iftitah (Sunnah)
- Membaca Surah Al-Fatihah
- Membaca Surah Asy-Syams
- Ruku’ dengan tuma’ninah
- I’tidal dengan tuma’ninah
- Sujud dengan tuma’ninah
- Duduk di antara dua sujud dengan tuma’ninah
- Sujud kedua dengan tuma’ninah
- Berdiri lagi untuk menunaikan rakaat kedua
- Membaca Surah Al-Fatihah
- Membaca Surah Adh-Dhuha
- Ruku’ dengan tuma’ninah
- I’tidal dengan tuma’ninah
- Sujud dengan tuma’ninah
- Duduk di antara dua sujud dengan tuma’ninah
- Sujud kedua dengan tuma’ninah
- Tasyahud Akhir dengan tuma’ninah
- Salam
- Membaca Doa Shalat Dhuha
Bacaan Surah pada Shalat Dhuha
Di dalam Kitab Maraaqil `Ubudiyyah karangan Ulama asal Banten, Indonesia – Syaikh Muhammad Nawawi Al-Bantani Tanara menjelaskan bahwa
وذكر السيوطي أن الأفضل أن يقرأ الإنسان في الركعة الأولى منها بعد الفاتحة سورة {والشمس} بتمامها، وفي الثانية: الفاتحة وسورة {والضحى} وتبعه على ذلك ابن حجر، لكن الرملي اعتمد أنه يقرأ في الركعة الأولى: الكافرون، وفي الثانية: الإخلاص، ويفعل ذلك في كل ركعتين منها.
Artinya : “Dalam Hal Ini Imam As-Suyuthi dan Ibnu Hajar menyebutkan, Bacaan Shalat Dhuha yang paling Utama adalah Setelah membaca Surah Al-Fâtihah pada Rakaat Pertama Dilanjutkan membaca Surah Asy-Syams, dan pada Rakaat Kedua membaca Surah Adh-Dhuha. sedangkan Ar-Ramli Berpendapat, paling Utama membaca Surah Al-Kâfirûn pada Rakaat Pertama dan Surah Al- Ikhlash pada Rakaat Kedua. Begitulah Surah-Surah yang Dibaca dalam setiap Dua Rakaatnya.“
Jika digabungkan dengan beberapa pendapat di atas dan pendapat Guru kami bisa dirangkum dalam keterangan berikut
| Shalat | Rakaat | Bacaan |
| Shalat Pertama (1-2) | Rakaat Pertama dan Kedua | Surah Asy-Syams Surah Ad-Dhuha |
| Shalat Kedua (3-4) | Rakaat Pertama dan Kedua | Surah Al-Lail Surah Alam Nasyrah (Al-Insyirah) |
| Shalat Ketiga (5-6) | Rakaat Pertama dan Kedua | Surah Alam Nasyrah (Al-Insyirah) Surah Alam Taro (Al-Fiil) |
| Shalat Keempat (7-8) | Rakaat Pertama dan Kedua | Surah Al-Kaafirun (Qul Yaa Ayyuhal Kaafiruun) Surah Al-Ikhlas (Qul Huwallahu Ahad) |
Doa Setelah Shalat Dhuha
Habis selesai shalat, jangan buru-buru bubar! Ada doa cantik yang bisa kita baca:
اَللهُمَّ اِنَّ الضُّحَآءَ ضُحَاءُكَ، وَالْبَهَاءَ بَهَاءُكَ، وَالْجَمَالَ جَمَالُكَ، وَالْقُوَّةَ قُوَّتُكَ، وَالْقُدْرَةَ قُدْرَتُكَ، وَالْعِصْمَةَ عِصْمَتُكَ. اَللهُمَّ اِنْ كَانَ رِزْقِى فِى السَّمَآءِ فَأَنْزِلْهُ وَاِنْ كَانَ فِى اْلاَرْضِ فَأَخْرِجْهُ وَاِنْ كَانَ مُعَسَّرًا فَيَسِّرْهُ وَاِنْ كَانَ حَرَامًا فَطَهِّرْهُ وَاِنْ كَانَ بَعِيْدًا فَقَرِّبْهُ بِحَقِّ ضُحَاءِكَ وَبَهَاءِكَ وَجَمَالِكَ وَقُوَّتِكَ وَقُدْرَتِكَ آتِنِىْ مَآاَتَيْتَ عِبَادَكَ الصَّالِحِيْنَ
Allahumma innadh dhuha-a dhuha-uka, wal bahaa-a bahaa-uka, wal jamaala jamaaluka, wal quwwata quwwatuka, wal qudrata qudratuka, wal ishmata ishmatuka. Allahuma inkaana rizqi fis samma-i fa anzilhu, wa inkaana fil ardhi fa-akhrijhu, wa inkaana mu’asaran fayassirhu, wainkaana haraaman fathahhirhu, wa inkaana ba’idan fa qaribhu, bihaqqiduhaa-ika wa bahaaika wa jamaalika wa quwwatika wa qudratika, aatini maa ataita ‘ibadikash shalihin.
Artinya:
“Wahai Tuhanku, sesungguhnya waktu dhuha adalah waktu dhuha-Mu, keagungan adalah keagungan-Mu, keindahan adalah keindahan-Mu, kekuatan adalah kekuatan-Mu, penjagaan adalah penjagaan-Mu. Wahai Tuhanku, bila rezekiku berada di langit, turunkanlah. Bila di bumi, keluarkanlah. Bila sulit, mudahkanlah. Bila haram, sucikanlah. Bila jauh, dekatkanlah. Dengan kebenaran dhuha-Mu, kekuasaan-Mu, keindahan-Mu, kekuatan-Mu, dan kekuasaan-Mu, limpahkanlah kepadaku apa yang Engkau limpahkan kepada hamba-hamba-Mu yang saleh.”
(Sumber: Abu Bakar Syatha ad-Dimyati, I’anatut Thalibin, juz 1, hal. 295)








