بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى نَبِيِّهِ مُحَمَّدٍ وَآلِهِ أَجْمَعِينَ
Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam, dan kesudahan yang baik (kebahagiaan akhirat) diperuntukkan bagi orang-orang yang bertakwa. Semoga shalawat beserta salam senantiasa tercurah kepada Nabi-Nya, Muhammad ﷺ, beserta segenap keluarganya.
اعْلَمْ أَنَّ وَاحِدًا مِنَ الطَّلَبَةِ الْمُتَقَدِّمِينَ لَازَمَ خِدْمَةَ الشَّيْخِ الْإِمَامِ زَيْنِ الدِّينِ، حُجَّةِ الْإِسْلَامِ، أَبِي حَامِدٍ مُحَمَّدِ بْنِ مُحَمَّدٍ الْغَزَالِيِّ رَحِمَهُ اللَّهُ
Ketahuilah bahwa salah seorang penuntut ilmu terdahulu (senior) senantiasa melazimi majelis dan berkhidmah kepada Asy-Syaikh Al-Imam Zainuddin, Hujjatul Islam, Abu Hamid Muhammad bin Muhammad Al-Ghazali rahimahullah,
(Catatan Penerjemah: Kata ‘khidmah’ dalam tradisi keilmuan Islam bermakna mulazamah, yakni mendampingi guru, melayani keperluan majelis, dan menimba ilmu secara intensif, bukan sekadar pelayan biasa. Adapun gelar ‘Zainuddin’ dan ‘Hujjatul Islam’ dibaca majrur dengan kasrah karena berkedudukan sebagai na’at/badal dari lafaz ‘Asy-Syaikh Al-Imam’, demikian pula ‘Abī Hāmid’ majrur dengan ya’ karena termasuk Asma’ul Khamsah).
وَاشْتَغَلَ بِالتَّحْصِيلِ وَقِرَاءَةِ الْعِلْمِ عَلَيْهِ، حَتَّى جَمَعَ دَقَائِقَ الْعُلُومِ، وَاسْتَكْمَلَ فَضَائِلَ النَّفْسِ
dan ia tekun mencurahkan waktu untuk menuntut ilmu serta bertalaqi mengkaji keilmuan langsung di hadapan beliau, hingga ia berhasil menguasai seluk-beluk ilmu yang pelik lagi mendalam, serta menyempurnakan berbagai keutamaan budi pekerti jiwanya.
(Catatan Penerjemah: Kata ‘at-tahshīl’ [التَّحْصِيل] bermakna bersungguh-sungguh dalam mempelajari dan menyerap ilmu [bukan sekadar ‘menghasilkan’]. Sedangkan ‘daqā’iq al-‘ulūm’ [دَقَائِقَ الْعُلُومِ] merujuk pada cabang-cabang keilmuan yang mendalam dan rumit perinciannya).
ثُمَّ إِنَّهُ تَفَكَّرَ يَوْمًا فِي حَالِ نَفْسِهِ وَخَطَرَ عَلَى بَالِهِ، فَقَالَ: «إِنِّي قَرَأْتُ أَنْوَاعًا مِنَ الْعُلُومِ، وَصَرَفْتُ رَيْعَانَ عُمْرِي عَلَى تَعَلُّمِهَا وَجَمْعِهَا، وَالْآنَ يَنْبَغِي أَنْ أَعْلَمَ: أَيُّ أَنْوَاعِهَا يَنْفَعُنِي غَدًا وَيُؤْنِسُنِي فِي الْآخِرَةِ؟ وَأَيُّهَا لَا يَنْفَعُنِي حَتَّى أَتْرُكَهُ؟»
Hingga pada suatu hari ia merenungi keadaan dirinya dan terlintas di dalam benaknya, lalu ia bergumam: “Sesungguhnya aku telah mempelajari aneka macam cabang ilmu dan telah menghabiskan masa mudaku yang paling utama untuk menekuni serta menghimpunnya. Dan kini, sudah sepatutnya aku mengetahui: manakah dari cabang-cabang ilmu itu yang kelak bermanfaat bagiku di hari esok (kiamat) serta menjadi pelipur lara bagiku di akhirat kelak? Dan manakah cabang ilmu yang tidak bermanfaat bagiku agar dapat segera kutinggalkan?”
(Catatan Penerjemah: Frasa ‘ray’āna ‘umrī’ [رَيْعَانَ عُمْرِي] secara leksikal berarti masa puncak keremajaan dan kekuatan usia muda [bukan sekadar ‘keindahan umur’]. Kata ‘ghadan’ [غَدًا] secara harfiah berarti ‘besok’, namun dalam uslub bahasa Arab dan terminologi agama sering digunakan sebagai kinayah dari hari akhirat/kiamat).
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لَا يَنْفَعُ» (رَوَاهُ مُسْلِمٌ وَغَيْرُهُ)
Rasulullah ﷺ bersabda: “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat.” (HR. Muslim dan lainnya).
فَاسْتَمَرَّتْ لَهُ هَذِهِ الْفِكْرَةُ حَتَّى كَتَبَ إِلَى حَضْرَةِ الشَّيْخِ حُجَّةِ الْإِسْلَامِ مُحَمَّدٍ الْغَزَالِيِّ رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى اسْتِفْتَاءً، وَسَأَلَهُ مَسَائِلَ، وَالْتَمَسَ مِنْهُ نَصِيحَةً وَدُعَاءً
Pikiran tersebut terus membayangi dirinya hingga akhirnya ia mengirimkan surat kepada Asy-Syaikh Hujjatul Islam Muhammad Al-Ghazali rahimahullahu ta’ala untuk meminta fatwa, menanyakan kepada beliau sejumlah persoalan, serta memohon nasihat dan doa darinya.
(Catatan Penerjemah: Kata ‘istiftā’an’ [اسْتِفْتَاءً] dan ‘iltamasa’ [وَالْتَمَسَ] menggunakan hamzah washl sehingga tidak ditulis kepala ‘ain/hamzah qath’. Lafaz ‘masā’ila’ [مَسَائِلَ] dibaca berharakat fathah tanpa tanwin karena termasuk isim ghoiru munsharif [shīghah muntahāl jumū’]).
قَالَ: «وَإِنْ كَانَتْ مُصَنَّفَاتُ الشَّيْخِ كَالْإِحْيَاءِ وَغَيْرِهِ تَشْتَمِلُ عَلَى جَوَابِ مَسَائِلِي، لَكِنَّ مَقْصُودِي أَنْ يَكْتُبَ الشَّيْخُ حَاجَتِي فِي وَرَقَاتٍ تَكُونُ مَعِي مُدَّةَ حَيَاتِي، وَأَعْمَلُ بِمَا فِيهَا مُدَّةَ عُمْرِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ تَعَالَى»
Ia berkata: “Meskipun karya-karya tulis Asy-Syaikh — seperti kitab Ihyā’ ‘Ulūmiddīn dan lainnya — telah memuat jawaban atas persoalan-persoalanku, namun maksud tujuanku adalah agar Asy-Syaikh berkenan menuliskan hal-hal yang kubutuhkan ini dalam beberapa lembar kertas ringkas saja, yang senantiasa menyertaiku sepanjang hidupku, dan dapat kuamalkan isinya sepanjang usiakuku, insya Allah Ta’ala.”
(Catatan Penerjemah: Pada teks asli tertulis ‘yasytamilu’ [mudzakkar]. Menurut kaidah nahwu yang tepat, fi’il tersebut dibaca ta’nits ‘tasytamilu’ [تَشْتَمِلُ] karena fa’il/dhamir-nya kembali kepada ‘mushannafāt’ yang merupakan jamak mu’annats salim / jamak taksir lighairil ‘aqil).
فَكَتَبَ الشَّيْخُ هَذِهِ الرِّسَالَةَ إِلَيْهِ فِي جَوَابِهِ
Maka Asy-Syaikh (Al-Ghazali) menuliskan risalah ini kepadanya sebagai jawaban atas surat permohonannya.







