Uqudulijain – Syaikh Nawawi AlBantani
PASAL PERTAMA
(الفَصْلُ الأَوَّلُ: فِيْ) بَيَانِ (حُقُوْقِ الزَوْجَةِ) الْوَاجِبَةِ (عَلَى الزَوْج) وَهِيَ حُسْنُ العِشْرَةِ، وَمَؤُنَةُ الزَّوْجَةِ وَمَهْرُهَا، وَالْقَسْمُ، وَتَعْلِيْمُهَا مَا تُحْتَاجُ إِلَيْهِ مِنْ فُرُوْضِ الْعِبَادَاتِ وَسُنَنِهَا وَلَوْ غَيْرَ مُؤَكَّدَةٍ، وَمِمَّا يَتَعَلَّقُ بِالْحَيْضِ، وَمِنْ وُجُوْبِ طَاعَتِهِ فِيْمَا لَيْسَ بِمَعْصِيَةٍ.
Pada pasal pertama ini, kiyai Mushonif menerangkan tentang hak seorang isteri dari suaminya, yaitu: menggaulinya dengan baik, menafkahinya, menyerahkan maharnya, pembagian yang adil baik lahir maupun bathin bagi suami yang beristeri lebih dari satu, mengajari ilmu agama yang berkaitan dengan kewajiban beribadah dan sunah-sunahnya, dan mengajari ilmu yang berkaitan dengan haidh, dan mengajari untuk selalu ta’at kepada suami dalam perkara diluar ma’siyat.








