Risalah Qusyairiyah
أبو علي الفضيل بن عياض
AL-FUDHAIL BIN IYADH
خرساني، من ناحية مرو.
وقيل إنه وُلد بسمرقند، ونشأ بأبيَورد مات بمكة في المحرم سنة: سبع وثمانين ومائة.
Namanya Abu Ali Al-Fudhail bin Iyadh, hidup tahun 105-187 H./723-803 M., dari daerah Marwa. Dikatakan bahwa dia dilahirkan di Samarkand dan dibesarkan di Abiward[1] dan wafat di Mekkah Al-Mukarramah pada bulan Muharram.
سمعت محمد بن الحسين يقول: أخبرنا أبو بكر محمد بن جعفر قال: حدثنا الحسن بن عبد الله العسكري قال: حدثنا ابن أخي أبي زرعة، قال: حدثنا محمد بن إسحق بن راهويه قال: حدثنا أبو عمار، عن الفضل بن موسى، قال: كان الفضيل شاطرًا: يقطع الطريق بين ابيورد وسرخس وكان سبب توبته: أنه عشق جارية، فبينما هو يرتقي الجدران إليها سمع تاليًا يتلو:
Al-Fudhail bin Musa berkata, “Fudhail sebelumnya adalah orang cerdik dan penyamun jalan di antara Abiward dan Sarkhas. Adapun sebab tobatnya dikarenakan kecintaannya yang sangat mendalam pada seorang wanita. Ketika memanjat dinding menuju kediaman wanita yang dicintainya, ia mendengar seorang membaca Al-Quran:
“أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ أَن تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ ٱللَّهِ”
“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk tunduk hati mengingat Allah.” (QS. Al-Hadid: 16)
فقال: يارب قد آن. فرجع.. فأراه الليل إلى خربة، فإذا فيها رُفقة، فقال بعضهم: ترتحل، وقال قوم: حتى نصبح، فإن فضيلا على الطريق يقطع علينا. فتاب الفضيل وأمَّنهم. وجاور الحرم حتى مات.
Hati Fudhail bergetar. Pikirannya gelisah. Dia mengurungkan niatnya dan bergumam, ‘Wahai Tuhan, telah datang waktunya sekarang.’ Maka, ia pulang dan malam pun mengembalikannya ke tempat lobang. Tiba-tiba sekelompok orang lewat. Sebagian mereka mengatakan, ‘Kita jalan terus.’ Sebagian yang lain mengatakan, ‘Kita berangkat besok pagi saja karena Fudhail sedang di jalanan yang hendak merampok kita.’ Hati Fudhail semakin tertunduk. Dia membulatkan tekadnya untuk bertobat dan tidak mengganggu mereka. Dia kemudian tinggal di Tanah Haram sampai wafatnya.”
وقال الفضيل بن عياض: إذا أحبَّ الله عبدًا أكثر غمَّه، وإذا أبغض عبدًا وسع عليه دنياه.
Di antara mutiara nasihatnya:
- Jika Allah mencintai seorang hamba, maka Dia akan memberinya banyak ujian. Jika Allah membenci seorang hamba, maka Dia akan meluaskan dunianya.
وقال ابن المبارك: إذا مات الفضيل ارتفع الحزن.
- Ibnu Al-Mubarak berkata, “Ketika Fudhail wafat, kesedihan sangat berkepanjangan.”
وقال الفضيل: لو أن الدنيا بحذافيرها عُرضت عليَّ ولا أحاسب بها لكنت أنقذرها، كما يتقّذَر أحدكم الجيفة إذا مرَّ بها أن تصيب ثوبه.
- Fudhail berkata, “Andai kata seisi dunia diberikan kepadaku dan aku tidak diperhitungkan dengan dunia itu, pasti saya akan jijik melihatnya sebagaimana kamu jijik terhadap bangkai jika melewatinya. Kamu tentu takut bangkai itu akan mengenai bajumu.”
وقال الفضيل: لو حلفت أَنِّي مُراء أحبُّ إلي من أن أحلف أنِّي لست بمراء.
- Katanya, “Andai kata saya disumpah sebagai orang yang riya (beramal bukan karena Allah), hal itu lebih saya sukai daripada saya bersumpah bahwa saya bukan orang yang berbuat riya.”
وقال الفضيل: ترك العمل لأجل الناس هو الرياءُ، والعمل لأجل الناس هو الشرك.
- Meninggalkan suatu amal karena manusia adalah riya dan beramal karena manusia adalah syirik.
وقال أبو عليِّ الرازي: صحبت الفضيل ثلاثين سنة ما رأيته ضاحكاً، ولا متبسما، إلا يوم مات ابنه علي، فقلت له في ذلك، فقال: إن الله أحبَّ أمرًا فأحببت ذلك. وقال الفضيل: إني لأعصى الله، فأعرف ذلك في خُلق حماري وخادمي. ومنهم:
- Kata Abu Ali Ar-Razi, “Saya bersahabat dengan Fudhail selama 30 tahun. Saya belum pernah melihatnya tertawa atau tersenyum kecuali pada hari kematian puteranya yang bernama Ali. Lalu saya tanyakan hal itu, jawabnya, ‘Sesungguhnya Allah menyukai hal itu, maka saya pun menyukainya.
[1]Abiward adalah sebuah kota di Khurasan yang terletak antara Sarkhas dan Nasa. Kota ditaklukkan oleh Ahnaf bin Qais At-Tamimi pada tahun 31 Н.







