Tingkatan Niat – Safinatun Najaah
(فصل) النِّيَّهُ ثَلَاثُ دَرَجَاتٍ: إِنْ كَانَتِ الصَّلَاةُ فَرْضًا وَجَبَ قَصْدُ الْفِعْلِ وَالتَّعْيِيْنُ وَالْفَرْضِيَّةُ وَإِنْ كَانَتْ نَافِلَةً مُؤَقَّتَةً كَرَاتِبَةً أَوْ ذَاتِ سَبَبٍ وَجَبَ قَصْدُ الْفِعْلِ وَالتَّعْيِيْنُ، وَاِنْ كَانَتْ نَافِلَ
Shalat – TINGKATAN NIAT
(27/0)
(فصل) النِّيَّهُ ثَلَاثُ دَرَجَاتٍ: إِنْ كَانَتِ الصَّلَاةُ فَرْضًا وَجَبَ قَصْدُ الْفِعْلِ وَالتَّعْيِيْنُ وَالْفَرْضِيَّةُ
TINGKATAN NIAT ADA 3
- Apabila shalat fardlu maka wajib qashdul fi
li (menyengaja melakukan shalat), tayiin (menentukan shalatnya), fardliyyah (mengucapkan kefardluannya).
Penjelasan : contohnya seperti : ushulliy fardladh dhurri lillaahi taalaa (aku menyengaja melakukan shalat fardlu dhuhur karena Allah). Kalimataku menyengajaadalah qashdul fili. Kalimat fardlu adalah fardliyyah. Kalimat dhuhur adalah jenis shalat (ta`yiin).
وَإِنْ كَانَتْ نَافِلَةً مُؤَقَّتَةً كَرَاتِبَةً أَوْ ذَاتِ سَبَبٍ وَجَبَ قَصْدُ الْفِعْلِ وَالتَّعْيِيْنُ،
- Apabila shalat nafilah (sunnah) ada waktunya seperti shalat rawatib atau shalat yang memiliki sebab maka wajib qashdul fi
li (menyengaja melakukan shalat) dan tayiin (menentukan shalatnya) saja.
Penjalasan : contohnya seperti ushalliy qabliyatadh dhuhri lillaahi taalaa (aku menyengaja melakukan shalat sebelum dhuhur karena Allah). Kalimataku menyengajaadalah qashdul fili. Kalimat shalat sebelum dhuhur adalah ta`yiin (jenis shalat).
Demikian juga shalat sunnah lainnya seperti shalat gerhana matahari, gerhana bulan, shalat istikharah, shalat tahyatal masjid, shalat tahajjud, shalat tarawih dan lain sebagainya.
وَاِنْ كَانَتْ نَافِلَةً مُطْلَقًا وَجَبَ قَصْدُ الْفِعْلِ فَقَطْ. الْفِعْلُ: أُصَلِّي، وَالتَّعْيِيْنُ: ظُهْرًا أوْ عَصْرًا، وَالْفَرْضِيَّةُ: فَرْضًا.
- Apabila shalat nafilah muthlaq maka hanya wajib qashdul fi`li (menyengaja melakukan shalat) semata.
Penjelasan : shalat sunnah muthlaq merupakan shalat sunnah yang tidak memiliki keterikan waktu, juga tidak memiliki keterikan sebab dan jumlah raka`at, juga bisa dilakukan kapan saja selain pada waktu-waktu yang diharamkan shalat.
Apabila melakukannya dengan lebih dari 2 rakaat maka hendaknya bertasyahud setiap mencapai 2 rakaat.
Apabila ada tasyahud awalnya maka disunnahkan membaca surah didalamnya sebelum tasyahud awal, namun apabila dikerjakan tanpa tasyahud awal, hanya ada tasyahud akhir maka disunnahkan membaca surah pada setiap raka`at.
Adapun yang afdlal (lebih utama, penj) hendaknya dilakukan 2 raka`at dengan satu kali salam.
Padah shalat sunnah muthlaq hanya wajib qashdul fili semata. Contohnya : ushalliy lillaahi taalaa (aku menyengaja shalat karena Allah).








